|
|
| Ada satu rekaman ceramah beliau yang menghentak hati |
Dalam kalimat pembuka, panitia yang memberikan pujian malah membuat Syaikh Ubaid menangis. Menurut beliau, ilmu yang dimiliki sangatlah sedikit.
Sambil menangis, beliau memikirkan kelak di hari kiamat, jawaban apa yang akan diberikan kepada Allah jika ditanya :
” He, Ubaid! Apa yang sudah kamu perbuat untuk Ahlussunnah? “
Ah, bukankah ini teguran untuk kita?
Apa yang sudah engkau berikan untuk Islam?
Karya tulis, tidak. Wakaf tanah, tidak. Membangun masjid, tidak. Membantu pesantren, tidak. Menyumbang kitab ulama, tidak. Belajar dengan semangat, tidak. Hafal Al Qur’an, tidak. Mengajarkan bahasa Arab, tidak. Apa lagi?
Justru, masa mudamu terbuang sia-sia. Malam begadang. Siang keluyuran. Pagi dihabiskan untuk tidur. Main game hampir tak berhenti. Bernyanyi dan musik tidak lepas. Bermain-main itu tentu. Pikiranmu pada perempuan yang bukan mahram mu. Orang tuamu tersakiti. Hafalan Al Qur’an mu mana?
Syaikh Ubaid takut akan pertanyaan Allah, ” He, Ubaid! Apa yang sudah kamu perbuat untuk Ahlussunnah? “
Padahal beliau buta. Entah bagaimana ceritanya dan sejak kapan beliau buta, hingga saat ini saya belum menemukan referensinya.
(Tambahan keterangan setelah beberapa jam artikel ini ditulis. Dikirim oleh seorang kawan : Ada rekaman ceramah Syaikh Arafat yang mengkisahkan bahwa beliau buta sejak usia 2 atau 3 tahun. Subhanallah! Hal itu bukanlah dinding penghalang untuk thalabul ilmi)
Namun, lihatlah karya-karya beliau! Kitab-kitab beliau! Ceramah-ceramah beliau! Sudah banyak orang tercerahkan dan memperoleh hidayah dengan sebab beliau!
Sudah banyak murid-murid Syaikh Ubaid yang menjadi ulama, menjadi dai, menjadi ustadz, dan menjadi orang-orang yang menginspirasi kebaikan.
Sudah terbukti! Namun, beliau masih saja takut tak bisa menjawab pertanyaan, ” He, Ubaid! Apa yang sudah kamu perbuat untuk Ahlussunnah?”.
Bukannya kita lebih takut lagi? Sudah tidak memberi apa-apa, malah menjadi sebab nama baik Ahlussunnah rusak. Menjadi noda di wajah dakwah. Membuat beban di perjalanan dakwah.
” He, diri! Apa yang sudah kamu perbuat untuk Islam? Apa yang sudah kamu perbuat untuk dakwah? Apa yang sudah engkau berikan untuk Ahlussunnah? “
Semoga Allah Ta’ala memberikan istiqamah untuk kita, sebagaimana Syaikh Ubaid mencontohkan hingga akhir hayat beliau yang tak lelah berdakwah. Rahimahullah
Mekkah, 22 November 2022