![]() |
| Ramadhan : Bulan Menjaga Perasan |
(370)
Ini bukan untuk menuduh, atau menghakimi isi hati. Ini bukan menjudge, apalagi menjatuhkan vonis. Ini pun bukan tentang si A atau si B secara personal. Ini sebatas mengajak untuk lebih bijak. Bijak berstatus, bijak bertwitt, bijak berstory, bijak ber-FYP, atau apapun istilah lain di alam medsos.
Ini tentang unggahan makanan dan minuman. Khususnya di bulan Ramadhan. Di momen sahur, berbukapuasa, atau momen lain. Mungkin perlu untuk dipikirkan matang-matang dan dipertimbangkan masak-masak. Apa tujuannya?
Jangan sampai membuat sedih orang lain. Sebab, di sana masih banyak dan tidak terhitung banyaknya, saudara-saudara kita yang mengalami kelaparan. Di beberapa daerah, dampak bencana masih terasa. Betapa sulitnya mengakses bahan-bahan makanan secara normal. Masih banyak yang kesulitan makan.
Rasulullah ﷺ bersabda;
” Bukan orang beriman yang sempurna imannya, seseorang yang kenyang padahal ada tetangga di dekatnya masih lapar ” HR Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no.112 dari sahabat Abdullah bin Abbas.
Harus peduli! Itu pointnya. Mesti tanggap. Aktif dan tidak pasif. Bukan hanya menunggu berita, namun berusaha mengerti keadaan tetangga. Pahami perasaan saudara kita! Bukankah unggahan-unggahan itu seperti menembus zona-zona yang tak terbatasi oleh jarak dan waktu? Bukan hanya tetangga, setiap orang yang memungkinkan melihat unggahan itu pun mesti dijaga perasaannya.
Ibarat satu tubuh! Sedemikan indah Rasulullah ﷺ menggambarkan umat Islam. Satu sama lain seperasaan. Jika ada yang senang, ikut pun senang. Jika ada yang sedih, usahakanlah untuk menghilangkan atau mengurangi sedihnya. Jangan menambah sedih di atas sedihnya!
Rasulullah ﷺ bersabda :
” Permisalan kaum beriman dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menjaga perasaan, semisal satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, sekujur tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam ” HR Bukhari 6011 Muslim 2586 dari sahabat An Nu’man bin Basyir.
Di sana, ada saudara-saudara kita yang sedang kelaparan. Di sana banyak yang kesulitan makan. Di sana ada yang tidak mampu menikmati menu dan sajian makanan yang diumbar (baca; diunggah) di status dan story. Sudahkah seperti satu tubuh?
Apalagi jika didasari niat berpamer, tidak mau kalah, tidak ingin ketinggalan, aku juga bisa bukan hanya dia, lebih-lebih dihindari lagi!
Sahabat Abdullah bin Abbas bercerita bahwa;
” Nabi Muhammad ﷺ melarang makan makanan dari dua orang yang saling berlomba ” HR Abu Dawud 3754.
Saling berlomba artinya tidak mau kalah dari yang lain. Dia bisa, saya juga bisa. Kamu bisa, saya lebih bisa. Dia posting ini, saya posting itu. ” Untuk dinilai siapa yang paling unggul”, demikian keterangan Al Munawi (Faidhul Qadir, 9166).
Oh, ini tahadduts bin ni’am! Bentuk syukur dengan bercerita tentang karunia Allah.
Betul! Bentuk syukur, bukan karena takabbur. Rasa bahagia, bukan bertujuan membuat luka. Sebab, masih banyak yang kelaparan. Ada saudara-saudara kita yang sedang kesuiltan.
Jika ingin tahaddust bin ni’am, berceritalah kepada orang yang tepat, berceritalah kepada orang yang pas. Pilihlah waktu yang sesuai. Gunakanlah media secara bijak.
Ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan mimpi yang baik adalah karunia dari Allah, selain memuji Allah, Beliau berpesan ;
” Jika salah seorang dari kalian bermimpi sesuatu yang ia suka, janganlah ia menceritakannya kecuali kepada orang yang ia cintai ” HR Bukhari 7044 Muslim 2261
Iya! Pilih-pilihlah kepada siapa bercerita, lihat-lihatlah keadaan, dan bijak-bijaklah menggunakan medianya.
Sekali lagi, ini bukan menuduh apalagi memvonis. Sekadar mengajak bermedia dengan bijak.
anakmudadansalaf.id
