![]() |
| Medan Dakwah di Medan |
(224)
Sebagai ibukota provinsi, Medan menjadi jawaban bagi penduduk Sumatera Utara jika ditanya, ” Dari mana? “.
Orang Mandailing Natal di perbatasan selatan dengan Sumatera Barat, hingga orang Langkat yang berbatasan dengan provinsi Aceh, jika berada di luar daerah akan mengatakan dirinya berasal dari Medan.
Maka, Medan mewakili daerah-daerah di Sumatera Utara.
Dakwah Salaf di Sumatera Utara terbilang cukup tua. Islam tercatat di dalam sejarah yang erat dengan kawasan. Berbagai kesultanan yang pernah ada adalah buktinya.
Perjalanan dimulai dari Bandara Silangit menuju Aek Songsongan. Sebuah pesantren bernama Al Ghuraba berdiri di sana.
Berangkat dari keresahan spiritual beberapa orang. Mereka pun mencari dan ingin menemukan sumber kedamaian. Di Manhaj Salaf lah itu ditemukan.
Proses dan alurnya pun panjang.
Kini, di atas tanah hampir 1 hektar, berdiri komplek pesantren Salaf. Ratusan santri santriwati menimba ilmu Al Qur’an dan Sunnah di sana.
Tahun 2017 yayasan sebagai badan hukum yang telah disahkan Kemenkumham menaungi semua kegiatan belajar mengajar di Pesantren Al Ghuraba.
32 kilometer ke arah selatan, dengan membelah kebun-kebun sawit, kami berkunjung ke Ma’had Daarus Sunnah Bargot.
Bargot artinya pohon Enau. Karena dahulu di sana tumbuh pepohonan Bargot, walau secara administrasi bernama Rawa Sari, Aek Kuasan, kampung itu tetap lebih dikenal dengan sebutan Bargot.
Pesantren Bargot sangat unik karena berada di tengah-tengah hamparan perkebunan sawit. Otomatis ikhwan-ikhwan yang menetap di sana, baik asli maupun pendatang, profesinya tak jauh dari persawitan.
Masjid Pesantren Bargot terasa nyaman karena luas dan tinggi. Halaman bermain terletak antara masjid dan asrama santri. Walaupun baru beberapa tahun berdiri, sejumlah santri telah menyelesaikan hafalan Al Qur’an.
Di Kabupaten Batubara, ada 2 pesantren yang dikelola. Satu di Tanjung Tiram yang pusat pendidikannya di Masjid As Salafy. Satunya lagi di Simpang Gambus.
Setelah menempuh jarak 123 kilometer, Allah Ta’ala memudahkan untuk berkunjung ke Ma’had Ibnu Umar di Simpang Gambus.
Walau sekira satu jam, kesan yang dirasakan sangat mendalam. Syarat tiba-tiba yang diajukan ke santri-santri agar Tausiyah diberikan dengan; kalimat pembuka dan kata-kata penutup oleh santri, disambut oleh 2 santri dan dilaksanakan dengan baik. Baarakallahu fiihim
Selepas Isya hari itu juga, jika sebelumnya hanya mendengar nama, Allah berikan kelancaran untuk silaturahmi bahkan menginap di Pesantren Minhajus Salaf di Tanjung Morawa Medan.
Lokasinya yang terbilang dekat dengan Bandara Kualanamu, menjadikan pesantren Morawa sebagai opsi transit yang nyaman untuk ustadz-ustadz yang diminta datang berkunjung ke Medan.
Namun, keinginan untuk mengembangkan fasilitas terkendala dengan letaknya yang berada di tengah perkampungan warga.
Maka, dicari dan dipilihlah sebuah lokasi yang berjarak 45 menit lebih kurangnya untuk pengembangan.
Di Sei Mencirim, pesantren pun didirikan dan diberi nama Ma’had Waadil Afiyah.
Jika di Morawa lebih difokuskan pada santriwati Asrama, maka santri-santri asrama untuk putra dipusatkan di Sei Mencirim.
Masih tersisa beberapa jam sebelum tiba saat penerbangan ke Pekanbaru. Permintaan panitia Pesantren Al Hijrah susah ditolak. Apalagi para ustadz pengampunya adalah kawan-kawan lama yang telah saling berdekat-karib puluhan tahun lamanya.
Jaraknya dari pesantren Morawa hampir 100 kilometer. Akses jalan tol menjadi faktor penyingkat waktu tempuh.
Pesantren Al Hijrah di Stabat boleh dibilang sebagai cikal bakal banyak titik dakwah Salaf dan tarbiyah di Medan dan sekitarnya. Alhamdulillah meski sesaat, kiranya menjadi obat.
Dakwah Salaf di Sumatera Utara telah merata.
Selain pesantren yang tersebut di atas, masih ada lagi yang belum sempat dikunjungi, seperti :
1. Pesantren Utsman bin Affan di Sibolga.
2. Masjid At Tauhid di Padang Sidempuan.
3. Masjid As Salafy di Rantau Prapat.
4. Padepokan Kulon di Ledong Barat.
5. Masjid As Salafy di Tanjung Tiram
6. Madrasah An Nur di Medan Marelan
7. Pesantren Waadil Afiyah di Sei Mencirim.
Jika ditanya, apa yang paling berkesan selama di Sumatera Utara?
Kerukunan dan keakraban ustadz-ustadz para pengampu dakwah di sana.
Momen Kajian di Aek Songsongan menjadi kesempatan hadir dan berkumpulnya ustadz-ustadz dari titik-titik dakwah yang disebut di atas. Bahkan ditambah juga perwakilan dari pesantren-pesantren di Aceh. Hafizhahumullah
Pertemuan yang menghapus susah dan penghilang dahaga.
Umar bin Khattab berkata ( Adabud Dunya wad Diin, hal. 161) :
لِقَاءُ الْإِخْوَانِ جَلَاءُ الْأَحْزَانِ
Bersua saudara adalah obat untuk sedih yang dirasa
Ustadz-ustadz tersebut konsen dan fokus berdakwah. Sibuk mereka mengelola lembaga pendidikan masing-masing.
Tema kajian mereka adem dan ayem. Menyejukkan dan terasa segar. Umat pun senang dan nyaman karena mereka tidak dididik untuk menghina atau menjatuhkan kehormatan orang lain.
Semoga masa kebangkitan dakwah Salaf bukan harapan yang kelamaan. Ada ribuan anak-anak Salafiyin Sumatera Utara yang kini sedang sibuk berthalabul-ilmi, di Sumatra maupun di Jawa.
Ya Allah, limpahkanlah kesabaran dan keikhlasan untuk kami dan mereka semua. Istiqamah di atas jalan- Mu, ya Allah.
KNO- PKU, 11 September 2023
