Rejeki di Sekecil Pori-Pori

5 menit baca
Rejeki di Sekecil Pori-Pori
Rejeki di Sekecil Pori-Pori

(290)

Rejeki di Sekecil Pori-Pori

Allah menjamin rezeki untuk setiap makhluk. Tidak akan meleset, dan tidak mungkin terlewatkan. Walau dianggap mustahil atau dibilang tidak masuk akal, namun demikianlah kenyataannya. Sayang, ada yang meragukan keajaiban rezeki.

Allah Ta’ala berfirman ;

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۖ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata ” [Hud: 6]

Berikut ini beberapa kisah tentang keajaiban rezeki yang disebutkan Al Hafiz Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah.

Kisah-kisah di bawah ini dikumpulkan dalam sebuah karya berjudul Al Hidayah. Semoga menginspirasi untuk optimis dan berbesar hati dalam menjemput rejeki.

Pertama : Kisah Abun Nafidz. Saat itu terjadi wabah Tha’un yang mengerikan di kota Bashrah. Abun Nafidz dan orang-orang yang sehat berkeliling ke kampung-kampung untuk menguburkan jenazah.

Saking banyaknya, mereka merasa tidak mampu. Akhirnya, rumah yang anggota keluarganya meninggal, pintunya ditutup dan dikunci begitu saja.

“ Kami pernah memasuki sebuah rumah. Kami periksa, dan tidak ada satu pun yang masih hidup. Kami tutup pintu rumah itu “, kata Abun Nafidz.

Setelah masa-masa wabah Tha’un lewat, Abun Nafidz dan orang-orang mendatangi rumah-rumah yang dahulu hanya ditutup pintunya. Termasuk rumah yang diceritakan di atas.

“ Saat kami membuka pintu dan kami periksa, ternyata ada seorang anak kecil di tengah rumah dalam keadaan segar bugar. Seolah-olah baru saja lepas dari pangkuan ibunya saat itu “, cerita Abun Nafidz.

Masih belum hilang rasa terkejut, mereka melihat seekor anjing betina yang masuk melalui sebuah lobang di rumah. Anjing itu mendatangi dan melindungi si anak. Sementara si anak merangkak lalu menyusu dari susu anjing betina tersebut. ( Al Bidayah wan Nihayah, 8/288-289 )

Kedua : Kisah Suwar, seorang kepala distrik di Baghdad. Hari itu, Suwar baru saja pulang dari pertemuan dengan khalifah Al Mahdi yang baru saja menjabat.

Sampai di rumah, makan siang disiapkan tidak membuat Suwar tertarik untuk menyantap. Ingin tidur, namun Suwar kesulitan tidur. Bingung, Suwar berusaha mencari kegiatan yang menarik, tetapi tetap saja Suwar tidak merasa tenang.

Suwar memutuskan keluar dari rumah dengan mengendarai seekor baghlah (persilangan kuda dengan keledai).

Baru sebentar berkendara, ada orang datang menyerahkan uang sebanyak 2.000 dirham. Ketika ditanya dari siapa, orang itu menjawab, “ Dari khalifah yang baru menjabat “.

Suwar mengajak orang itu untuk berkeliling di jalan-jalan kota Baghdad untuk menghilangkan penat.

Salat Ashar tiba, Suwar salat di sebuah masjid. Selesai salat, ada orang buta memegang baju Suwar dan menyampaikan maksudnya.

Kata orang itu, “ Sungguh, saya orang buta. Aku mencium aroma wangi Anda. Menurut saya, Anda adalah orang yang lapang dan kaya. Saya ingin menyampaikan keperluan “.

Orang itu bercerita bahwa bangunan rumah di depan masjid dahulu milik ayahnya. Karena pindah ke Khurasan, rumah itu dijual dan ia diajak ayahnya ke Khurasan. Ayahnya meninggal dunia. Ia pun kembali ke Bahgdad. Hanya masjid dan rumah itu yang diingatnya. Ia menemui pemilik rumah itu untuk meminta bantuan bekal.

“ Saya ingin berjumpa dengan Suwar. Karena Suwar adalah teman baik ayahku. Siapatahu ia sedang lapang sehingga bisa membantu “, kata si buta.

Setelah menanyakan siapa ayahnya, yang memang teman baiknya, Suwar berkata, “ Sungguh, saya lah Suwar teman baik ayahmu. Sungguh, hari ini Allah menghalangi saya untuk tidur, tetap di rumah, makan, dan tidak bisa tenang, sehingga saya keluar dari rumah. Rupanya agar saya berjumpa denganmu dan duduk di hadapanmu “

2.000 dirham yang diberikan khalifah, diserahkan Suwar kepadanya. Suwar juga mengundang ke rumahnya esok hari.

Kisah-Kisah Kebaikan dan Rezeki dari Al Bidayah wan Nihayah.

Suwar lalu berkunjung menemui khalifah Al Mahdi dan menceritakan peristiwa tersebut.

Al Mahdi memerintahkan agar orang buta itu diberi hadiah 2.000 dinar. “Engkau sendiri apakah punya utang?”, tanya Al Mahdi kepada Suwar. Jawabnya, “Ada. 50 ribu dinar”.

Hari itu juga, utusan Al Mahdi ke rumah Suwar membawa 50 ribu dinar untuk Suwar dan 2.000 dinar untuk si buta. Hanya saja hari itu, orang buta tidak datang ke rumah Suwar.

Sore saat Suwar bertemu Al Mahdi, Al Mahdi mengatakan, “Saya berpikir jika engkau melunasi utang 50 ribu dinar itu, maka habis sudah uang yang engkau punya. Maka, saya tambahkan 50 ribu dinar lagi untukmu”.

Hari berikutnya barulah orang buta itu datang ke rumah Suwar. Kepada si buta Suwar mengatakan, “Sungguh, karena sebab dirimu, Allah melimpahkan rezeki yang sangat banyak kepadaku”.

Suwar lalu menyerahkan 2.000 dinar dari Al Mahdi kepadanya dan ditambah lagi 2.000 dinar dari Suwar sendiri. (Al Bidayah wan Nihayah 10/165)

Ketiga : Kisah Thahir bin Ahmad yang sedang makan bersama dengan teman-temannya. Seekor kucing datang, mereka melemparkan makanan untuk si kucing. Si kucing dengan cepat mengambil lalu pergi.

Tak lama kucing itu datang lagi, mereka kembali melemparkan makanan. Kucing itu mengambil kemudian pergi dan datang lagi.

Karena penasaran, mereka mengikuti kemana kucing itu pergi. Rupanya, kucing itu mengambilkan makanan untuk seekor kucing buta di atas atap rumah. (Al Bidayah wan Nihayah 12/142)

Keempat : Kisah Izzudin Al Harrani yang memperhatikan seekor kumbang. Kumbang itu datang mengambil biji gandum lalu pergi terbang. Berkali-kali kumbang itu melakukan. Rupanya, kumbang itu membawakan makanan untuk seekor burung buta yang ada di sebuah pohon (Al Bidayah wan Nihayah 13/366)

Kelima : Kisah Nuruddin Ahmad bin Al Maqshus yang menyaksikan sendiri seekor sapi betina yang menyusui anak-anak anjing di sebuah reruntuhan bangunan. Induk anjing telah mati. (Al Bidayah wan Nihayah 14/320)

Kaliwaru, Wonosobo, 18 September 2024

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • *Si Burung Saifannah* Sejenis burung unik di wilayah Mesir. Jika hinggap di sebuah pohon, daun-daunnya dimakan sampai habis oleh...
  • (318) Keluar dari Masjid Nabawi di pintu Raja Fahd, gunung Uhud di sebelah utara gagah terlihat. Tingginya 1000 meter...
  • (240) Dari beberapa sumber, cosplay sudah dikenal sejak lama. Bukan hanya satu dua tahun belakangan. Juga bukan sebatas dari...
  • (129) Seringkali, bahkan hampir semua santri yang saya ajak bicara, begitu cemas tentang masa depannya. Akan kerja apa? Mau...
  • (50) Beberapa waktu setelah belasan tahun tak bertemu, seorang kawan berkirim pesan untuk saya. Rupanya saat ini kawan itu...
  • “Kapan seorang hamba bisa rasa nikmatnya baistirahat?” Pas dapa tanya bagini, Imam Ahmad bin Hanbal jawab; عند أوّل قدَمٍ...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca