![]() |
| Di Antara Puing-Puing dan Reruntuhan Semangat Thalabul Ilmi |
(291)
Mereka berbicara tentang pencapaian hidup. Apa yang telah diraih, apa yang sudah dimiliki? Masing-masing berbangga. Dirinya yang terbaik!
Tapi, apa capaiannya?
Si A dengan hartanya sampai dikatakan orang terkaya. Si B dengan pangkatnya hingga tak ada yang bisa menyainginya. Si C karena follower nya berjuta dibilang megabintang.
Si D memamerkan deretan piala di rak lemari; piala dari kecil di bidang olahraga. Si E memposting sertifikat dan piagam untuk menunjukkan prestasinya.
” Aku penakluk wanita “, kata si F karena banyak perempuan mengejar-ngejar. ” Sementara si G bilang, ” Aku multitalenta di bidang musik “. Si H seakan tak mau kalah, ” Aku sudah berkeliling dunia “
Pernah mendengar tentang khalifah Al Manshur? Khalifah kedua dinasti Abbasiyah. Khalifah yang menjabat selama 22 tahun hingga wafat di tahun 775.
Ibnu Katsir (Al Bidayah) menukil aktivitas harian Al Manshur. Pagi-pagi beliau sudah bekerja untuk memeriksa; perkara pemerintahan, mutasi pejabat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan kepentingan publik.
Selepas Zuhur, Al Manshur pulang ke rumah dan istirahat hingga Ashar. Setelah salat Ashar, beliau fokus urusan keluarga dan kepentingan pribadi.
Selepas salat Isya, Al Manshur berkantor lagi untuk memeriksa surat menyurat dari daerah-daerah. Dilanjutkan dengan diskusi-diskusi hingga habis sepertiga malam.
Setelahnya Al Manshur pulang ke rumah untuk tidur hingga sepertiga malam terakhir. Beliau bangun dan salat sampai datang waktu Subuh. Setelah memimpin salat Subuh berjamaah, beliau masuk ke ruang kerja.
Apa yang tidak Al Manshur punya? Jabatan tertinggi sebagai khalifah. Wilayah sangat luas dikuasai. Kekuatan militer yang menggetarkan. Istri banyak. Harta berlimpah.
Adakah semacam si A, si B, hingga si H, seperti di atas yang mampu menyamai Al Manshur dalam pencapaian duniawi?
Adz Dzahabi (Siyar A’lam Nubala) menyebut Al Manshur, ” Tokoh bani Abbasiyah yang disegani dan pemberani. Cerdas dan tegas. Cerdik dan kuat. Mampu mengelola kekayaan. Energik. Tidak suka kegiatan sia-sia dan tidak senang bermain. Akalnya sempurna. Jauh dari sifat bodoh. Sangat beretika di majlis fikih, adab, dan ilmu “
Al Manshur, masih menurut Adz Dzahabi, “Telah berkeliling di semua penjuru dunia. Mengunjungi banyak negeri. Dan beliau melakukan thalabul ilmi “
Ibnu Katsir dalam Al Bidayah menulis, ” Al Manshur di masa remaja nya senang berthalabul ilmi di majlis-majlis, termasuk hadis dan fikih. Maka, Al Manshur memiliki aspek keilmuan yang baik dan pengetahuan agama yang bagus “
Suatu hari beliau ditanya, ” Wahai, Amirul Mukminin. Apakah masih ada kelezatan di dunia ini yang belum Anda capai? “.
” Tidak ada. Kecuali satu hal saja “, jawab Al Manshur.
Orang-orang bertanya, ” Apa itu? “
Al Manshur menerangkan, ” Ucapan ahli hadis kepada gurunya: Riwayat hadis siapa yang akan Anda sampaikan? Semoga Allah merahmati Anda “.
Iya. Majlis hadis Nabi ﷺ adalah majlis yang diselenggarakan untuk menyampaikan riwayat-riwayat hadis Nabi ﷺ.
Majlid hadis dipandu seorang guru. Di salah satu metode, murid-murid akan meminta riwayat hadis dari gurunya, ” Riwayat hadis siapa yang akan Anda sampaikan? Semoga Allah merahmati Anda “.
Nah, Al Manshur ingin menjadi seorang guru hadis. Hal itu menjadi satu-satunya kelezatan di dunia yang tak kesampaian.
Menteri-menterinya, para juru tulis yang ada, segera berkumpul dan duduk mengitari Al Manshur. Mereka berkata, ” Silahkan Amirul Mukminin menyampaikan hadis untuk kami “.
Al Manshur merespon, ” Kalian bukan ahli hadis. Ahli hadis pakaiannya sederhana, kaki mereka pecah-pecah, rambutnya panjang, berkeliling ke berbagai negeri, dan menyebarkan hadis-hadis Nabi ﷺ “
Ternyata, Al Manshur yang sudah memiliki “semuanya”. Jabatan, harta, keluarga, pasukan, dan lainnya.
Dari itu semuanya, masih ada yang kurang. Hanya satu yang kurang. Apa itu? Menjadi seorang ahli hadis.
Sayang, tak sedikit anak muda yang meninggalkan majlis ilmu untuk sesuatu yang ingin ditinggalkan Al Manshur.
Bojong, 20/09/24
