Cerita Cinta Zulaikha

4 menit baca
Cerita Cinta Zulaikha
Cerita Cinta Zulaikha

(396)

Nama Zulaikha sebagai Imra’atul Aziz (Istri nya Al Aziz, pembesar Mesir) tersebar luas.

Kisahnya sering dijadikan inspirasi. Tidak jarang dalam momen akad nikah, cerita Zulaikhah dan Nabi Yusuf diangkat sebagai materi menasihati dua mempelai. Bahkan, kadang-kadang disisipkan dalam doa yang terangkai untuk pengantin.

Apalagi di Mesir, lokasi yang disebut sebagai asal Zulaikha, ceritanya semakin didramatisir agar lebih mengharu biru.

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ayat Al Qur’an maupun hadis sahih yang menetapkan atau menafikan kisah pernikahan Nabi Yusuf dengan Imra’atul Aziz.

Kisah-kisahnya memang disebut dalam banyak kitab tafsir.

Satu pendapat; Zulaikha adalah namanya. Pendapat lain; namanya Raa’iil adapun Zulaikha adalah gelarnya.

Dalam kisah yang beredar disebut bahwa setelah suaminya wafat, Zulaikha jatuh miskin bahkan menjadi pengemis. Hingga akhirnya Nabi Yusuh menikahinya. Allah membuat Zulaikha yang sudah tua kembali lagi muda.

Di malam pertama pernikahan, (Tafsir Ibnu Abi Hatim, nomor.11723), Imra’atul Aziz beralasan kepada Nabi Yusuf, “ Wahai, As Shiddiq. Janganlah Anda mencela saya. Sungguh, dahulu saya adalah seorang wanita yang cantik jelita, seperti yang Anda ketahui. Saya hidup di tengah-tengah kekuasaan dan kemewahan dunia. Adapun suami saya tidak mampu mendatangi perempuan. Sementara Anda, Allah telah menganugrahkan ketampanan dan kegagahan untuk Anda, maka saya pun terbawa nafsu sebagaimana yang Anda ketahui sendiri “.

Disebutkan bahwa ternyata Imra’atul Aziz memang masih gadis. Darinya lahir dua anak laki-laki untuk Nabi Yusuf.

Masih banyak lagi cerita-cerita terkait yang jika dibaca akan membuat terharu, terkesan, bahkan menangis.

Namun, entah sumbernya darimana? Ada cerita yang tidak diketahui sumbernya. Ada yang sumbernya diketahui tetapi dhaif. Atau bersumber dari Israiliyat.

Yang membuat keder adalah pernyataan Ibnul Qayyim!

Ibnul Qayyim menulis, (Raudhatul Muhibbin, hal.445), tentang bab ke-27, “ Barangsiapa meninggalkan hal haram yang ia senangi, niscaya Allah memberinya dengan yang halal atau menggantinya dengan yang lebih baik. Judul bab dan kaidah ini adalah ; Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah menggantinya dengan yang lebih baik”

Beliau melanjutkan, “ Contohnya Yusuf As Shiddiq alaihis salam yang meninggalkan Imra’atul Aziz karena Allah. Beliau lebih memilih penjara daripada berbuat keji. Maka, Allah menggantinya dengan diberi kedudukan di negeri Mesir dan tinggal di mana saja yang Beliau kehendaki. Sementara wanita tersebut akhirnya datang menemui Beliau dalam keadaan rendah, memohon, dan berharap terjalin hubungan yang halal. Lalu Beliau pun menikahinya. Ketika tiba malam pertama, Beliau berkata ; Ini jauh lebih baik dibandingkan apa yang engkau inginkan dahulu “

“ Renungkanlah bagaimana Allah mengganti sempitnya penjara dengan kedudukan di negeri Mesir sehingga bisa tinggal di mana saja yang Beliau kehendaki. Allah juga membuat Imra’atul Aziz menjadi pihak yang rendah. Demikian juga, Imra’atul Aziz dan kaum perempuan menyatakan bahwa Beliau bersih dari tuduhan. Inilah ketetapan Allah Ta’ala untuk hamba-hamba Nya, dahulu, sekarang, hingga hari kiamat “, pungkas Ibnul Qayyim.

Selevel Ibnul Qayyim yang sangat terhormat, menetapkan status pernikahan Imra’atul Aziz dengan Nabi Yusuf.

Namun, Ibnu Katsir yang sama-sama Ibnul Qayyim berguru kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, berbeda padangan.

Ketika menyebutkan beberapa hal terkait kisah Imra’atul Aziz, Al Hafiz Ibnu Katsir (Qashshul Anbiya, 1/321) menegaskan, ” Mayoritas pendapat ahli tafsir bersumber dari kitab-kitab Ahli Kitab, maka lebih baik menghindarinya “

Intinya, kalau pun benar riwayat Israiliyat, pegangan kita adalah sabda Rasulullah ﷺ:

لا تُصَدِّقوا أهلَ الكِتابِ ولا تُكَذِّبوهم، وقولوا: آمَنَّا باللهِ وما أُنزِلَ إلينا

“ Janganlah kalian membenarkan Ahlul Kitab atau mendustakannya. Namun katakanlah, “ Kami beriman kepada Allah dan beriman kepada apa yang diturunkan untuk kami “ HR Bukhari 4485 dari sahabat Abu Hurairah.

Ringkasnya?

Sesuai keterangan Al Qur’an saja. Tidak memastikan nama Zulaikha sebagai nama Imra’atul Aziz.

Imra’atul Aziz merawat Yusuf sejak kecil sesuai permintaan suaminya. Setelah Yusuf dewasa, Imra’atul Aziz menggoda dan merayu Yusuf, bahkan sampai mempengaruhi kaum perempuan di kota untuk membantunya.

Namun, Yusuf lebih memilih penjara daripada mengiyakan.

Ketika Raja hendak membebaskan Yusuf, Beliau mengajukan syarat agar nama Beliau dibersihkan.

Imra’atul Aziz dan kaum perempuan mengaku salah dan bersaksi bahwa Yusuf lah yang benar.

Di akhir cerita, Imra’atul Aziz bertaubat. Allah berfirman tentang ucapannya ;

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّارَةٌ بِۢالسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Yusuf: 53)

As Sa’di menegaskan, ” Inilah yang benar. Kata-kata ini adalah kata-kata Imra’atul Aziz, bukan ucapan Yusuf. Sebab, konteksnya memang ucapan Imra’atul Aziz. Apalagi saat itu, Yusuf masih di dalam penjara “

Bagaimana pun juga; kisah Imra’atul Aziz (yang sering disebut Zulaikha) adalah kisah yang tersebut dalam Al Qur’an. Kisah cinta yang terdorong hawa nafsu, tetapi berakhir indah dengan taubat.

Intinya; bijak dan berhati-hati dalam menukil cerita. Jangan hanya terbawa perasaan atau sekedar ikut-ikutan.

Mesir, 4 Muharram 1448 H/19 Juni 2026

anakmudadansalaf.id

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca