![]() |
| Rawatlah Hidayah! Jangan Campakkan! |
(Seri Ibnul Qayyim – 01)
Barangsiapa telah mengetahui jalan yang akan mengantarkannya kepada Allah, lalu justru ia tinggalkan. Malah ia mengikuti maunya, kesenangannya, syahwat, dan kepuasannya sendiri.
Maka, ia telah jatuh tercebur ke sumur-sumur kehancuran, ia penjarakan jiwanya ke dalam sel-sel sempit. Sepanjang hidup, ia tersiksa dengan siksa yang belum pernah dirasakan siapapun di alam semesta ini.
Hidupnya penuh keputus-asaan, galau, dan kesedihan. Kematiannya adalah nestapa dan derita. Hari berbangkitnya diiringi rasa bersalah dan penyesalan.
Urusannya berantakan, rencananya hancur-hancuran. Jiwanya dipenuhi gelisah dan kesedihan. Kepuasan orang jahil tidak didapat, ketenangan orang arif tidak diraih.
Ia berteriak minta tolong, tidak ada yang menolong. Ia mengeluh, tidak ada yang peduli.
Kebahagiaan dan kegembiraannya telah pergi menjauh. Gantinya datanglah sakitnya luka, sedih, dan nestapa.
Rasa damai berganti resah. Mulia berubah hina. Kaya dirasa miskin. Semua yang pernah dicapai, hancur berantakan.
Hal itu terjadi karena; ia sudah mengetahui jalan kepada Allah, namun malah ia tinggalkan menjauh. Ia berjalan dengan wajahnya terjungkal terbalik.
Ia yang pernah melihat, berubah buta. Ia yang dulunya sudah mengerti, malah mengingkari. Ia yang sebelumnya datang, justru pergi. Sudah dipanggil kembali, ia tak peduli. Pintu dibuka, tetapi ia berpaling membelakangi pintu ” ( Thariqul Hijratain, hal 180)
