![]() |
| Sesederhana Itulah Bahagia |
(309)
Sesederhana Itulah Bahagia
Ibnul Qayyim dalam Al Wabilus Shayyib menyatakan bahwa untuk bahagia dunia akhirat, diperlukan 3 unsur yang saling melengkapi, yaitu bila diberi nikmat bersyukur, jika dikasih cobaan bersabar, dan selalu beristighfar setiap kali bersalah.
” Seorang hamba tidak akan pernah bisa lepas dari 3 hal ini. Selamanya! “, tegas Ibnul Qayyim.
Oleh sebabnya, bahagia itu sederhana:
Pertama : Pandai bersyukur. Dari yang dianggap kecil, dibilang biasa, atau dipandang kurang berharga, tetaplah disyukuri.
Sekalipun tidak sesuai harapan, tetap disyukuri sebab telah terhindar dari kegagalan. Kalau gagal, ya disyukuri karena tidak mengalami kegagalan yang lebih besar.
Bersyukur tidak hanya tentang materi. Benar, bahwa harta, uang, fasilitas, tabungan, tanah, rumah, dan lain-lain adalah nikmat yang dicari. Namun, ketika hasilnya lain, bersyukurlah untuk hal-hal besar yang sering terlupakan.
Datanglah ke rumah sakit! Ah, betapa harga kamar inap mengingatkan rumah yang bertahun-tahun kita tinggali. Ah, ternyata oksigen yang dihirup sekian lama jika dijual sangat mahal.
Ah, sungguh sehat benar-benar tak ternilai. Sebab, ketika terbaring sakit, selain banyak biaya keluar, sulit juga berkegiatan produktif.
Datanglah ke bangsal jiwa! Huft, rendah dan hina diri ini jika mengeluh dan mengeluh. Kewarasan akal dan kesehatan jiwa jarang sekali, bahkan hampir tak pernah disyukuri.
Kedua : Bersabar! Semua yang terjadi dan setiap yang dialami, jika menyesakkan dada, membuat kecewa, membikin terluka, atau merugikan secara materi, obatnya hanya satu; bersabar!
Tidak mungkin Allah Ta’ala menghendaki kesulitan untuk hamba. Tidak akan Allah memberi beban di luar batas kemampuan hamba. Allah tidak zalim, justru manusia yang menzalimi dirinya sendiri.
Setiap orang memiliki kesulitan, tidak hanya engkau sendiri. Banyak orang yang kesulitannya lebih berat. Mereka tidak mengeluh, kenapa engkau mengeluh?
Coba renungkan kembali, apakah setiap saat kesulitan itu terjadi? Apakah lupa sudah berapa banyak engkau tertawa bahagia? Sudah berapa sering kemudahan engkau dapatkan? Apakah satu kesulitan menghapus sekian banyak kemudahan?
Jika engkau merasa tidak pernah mengalami kemudahan, engkau bilang hidup selalu diiringi kesulitan, maka sadarlah bahwa engkau tidak punya sifat sabar sama sekali. Pantas saja jika engkau tidak bahagia.
Ketiga: Beristighfar! Ini menegaskan hubungan antara hamba dengan Pencipta. Selalu saja ada salah saat melangkah, ada keliru ketika keinginan dituju. Dimana-mana terdapat kekurangan manakala kewajiban dilakukan. Karena hawa nafsu, larangan pun dilanggar penuh nafsu.
Maka, sebaik-baik hamba adalah yang siap mengaku salah. Ia selalu menyadari bahwa dirinya tak akan bisa sempurna. Banyak cacat di hatinya. Banyak cela pada dirinya.
Ia tidak ingin mencari-cari pembenaran atau mengais-ngais alasan. Pokoknya, dia makhluk yang banyak salah. Titik! Itu keyakinannya.
Namun, ia percaya bahwa Allah Maha Pengampun, maka didatangilah pintu taubat- Nya. Ia yakin Allah sangat sayang dan sangat gembira jika hamba- Nya ingin bersuci diri. Rahmat- Nya meliputi segala sesuatu.
Apabila hari-hari hamba dilalui dengan bersyukur, bersabar, dan beristighfar, pasti bahagialah dia. Tidak mungkin tidak. Karena, bahagia itu sederhana.
Bilapun boleh ditambahkan, maka bacalah firman Allah dalam surat Fushilat ayat 34! Maka, kebahagiaanmu akan semakin berkualitas.
Allah berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
” Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia ” QS Fushilat 34
As Sa’dii dalam Tafsir, menerangkan, ” Bila ada yang menyakitimu, apalagi orang itu punya hak yang besar untuk dipenuhi, seperti karib kerabat, sahabat dekat, atau yang semisalnya”
” Ia menyakitimu dengan ucapan atau sikap, maka responlah dengan sikap yang baik! Jika ia memutus hubungan denganmu, sambunglah! Jika ia menzalimimu, maafkanlah! “, lanjut As Sa’dii.
Beliau menambahkan, ” Jika ia berbicara jelek tentang dirimu, di hadapanmu langsung atau dari belakang, jangan engkau balas dengan hal yang sama. Tapi, maafkanlah dia dan tetaplah berbicara kepadanya dengan bahasa yang lembut. Jika ia mendiamkanmu dan tidak mau berbicara denganmu, maka santun-santunlah berbicara kepadanya, ucapkan salam untuknya”
As Sa’dii menyimpulkan, ” Jika engkau membalas sikap buruknya justru dengan sikap yang baik, pasti manfaatnya sangat besar, yaitu orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan (akan berbalik) menjadi kawan yang sangat setia “
Seorang hamba jika hubungannya baik dengan Allah melalui syukur, sabar dan istighfar, ia juga baik dengan sesama melalui sikap pemaaf dan berbuat baik sekalipun kepada dia yang menyakiti, maka bahagialah dia.
Sudahkah Anda bahagia hari ini?
CKG, 18 Januari 2025
