![]() |
| Ingin Seperti Mereka, Hanya Saja… |
(314)
Ingin Seperti Mereka, Hanya Saja…
Saya sering berbincang dan berdiskusi dengan rekan-rekan muda yang memiliki respek terhadap dunia pendidikan agama.
Kami dipertemukan oleh kesadaran bahwa mendidik anak-anak di atas ajaran Islam adalah tanggungjawab bersama.
Selalu ada hambatan. Diri sendiri justru kendala terbesar. Rasa malas di satu sisi, minder di sisi lain. Takut tidak ikhlas di sebelah, sebelahnya takut tidak bersyukur. Khawatir salah mendidik, juga khawatir jika ilmu tidak diajarkan.
Hambatan besar juga ketika muncul pikiran, ” Aku juga ingin seperti mereka “. Mereka siapa? Apa yang mereka lakukan?
Ringkasnya begini. Izinkan mewakili rekan-rekan muda menggunakan kata ganti orang pertama, yaitu saya.
Saya ingin mempersiapkan diri untuk menikah, punya tanah, dan bangun rumah. Tapi, kapan? Saya ingin bertaawun membantu Pondok di program pendidikan.
Saya ingin fokus bekerja dan memulai usaha. Tapi, kapan? Jadwal mengajar padat.
Saya mau juga jalan-jalan dan menjelajahi lokasi baru. Tapi, kapan? Pelajaran hampir tidak ada liburnya.
Saya tertarik kalau diajak muncak di berbagai tujuan pendakian gunung. Tapi, kapan? Bahkan, di akhir pekan pun, Pondok tidak libur.
Saya senang olahraga. Dan saya juga ingin ikut kompetisi di kalangan ikhwan-ikhwan. Tapi, kapan? Izin sulit didapatkan.
Saya kadang-kadang “gemes” ketika mendengar orang-orang meluangkan waktu untuk hobinya, seperti memancing, berburu, atau utak-atik mesin. Tapi, kapan? Sudah terlanjur capek masuk kelas.
Saya merasa bagaimana ketika mendengar percakapan tentang berbagai hal kulineran. Saya ingin. Tapi, kapan? Siang padat, malam untuk istirahat.
Apalagi jika mengikuti perbincangan tentang gaya hidup, perkembangan teknologi, atau yang viral-viral. Kok saya tidak tahu?
Kepada rekan-rekan muda itu, saya hanya bisa menghibur dan membesarkan hati mereka, bahwa tiap-tiap orang memiliki pilihan hidup sendiri-sendiri.
Tidak usah dan jangan sampai memikirkan orang lain. Fokuslah pada jalan hidup yang engkau pilih, yaitu jalan ilmu. Belajar dan mengajarkan ilmu-ilmu agama.
Tidak mengapa jika tidak bisa sebagaimana mereka. Jangan kecil hati, jangan pesimis, karena tidak mampu seperti mereka.
Pokoknya, tidak usah melihat dan menilai orang lain!
Satu hal yang sangat menyejukkan adalah saat membaca nasihat berikut.
Al Imam Al Ajurri menyatakan dalam karya beliau berjudul Akhalaqul Ulama,
” …sampai-sampai semua yang kering dan basah memohonkan ampunan untuk mereka. Ikan-ikan di lautan dan serangga-serangga tak ketinggalan. Binatang-binatang buas dan hewan-hewan ternak, bahkan langit dan bintang gemintangnya, semua turut memohonkan ampunan untuknya…”
Kemudian Beliau membawakan sabda Nabi Muhammad ﷺ dari sahabat Abu Darda dengan sanad lengkap :
إِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ كُلُّ شَيْءٍ، حَتَّى الْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْبَحْرِ
” Sungguh, segala yang ada memohonkan ampunan untuk orang yang berilmu. Bahkan, ikan di dasar lautan pun turut memohonkan “
Untukmu, anak muda yang mengambil jalan ilmu, kurang indah di mana hidup jika semua makhluk hidup di sekitarmu selalu memohonkan ampunan untukmu? Tanpa engkau tahu.
Untukmu, anak muda yang melawan lelah dan bosan mengajari anak-anak kecil melafalkan huruf-huruf hijaiyah, apakah tidak memotivasimu ketika hewan dan binatang memohon kepada Allah agar engkau diampuni? Meskipun engkau tak pernah mendengarnya langsung.
Untukmu, anak muda yang berjuang melepaskan belengggu kesenangan duniawi karena mendampingi anak-anak belajar Al Qur’an, sadarilah bahwa langit yang engkau lihat dan bintang gemintang yang engkau pandang, pun memohon kepada Allah agar engkau diampuni.
Sungguh berbahagialah hamba yang diampuni Allah Ta’ala.
Musholla Al Ilmu, Lendah, 08 Februari 2025
