Pondok : Masa Depan Kami (II)

3 menit baca
Pondok : Masa Depan Kami (II)
Pondok : Masa Depan Kami (II)

(326)

Banyak cerita dialami santri di Pondok. Tiap santri bereaksi dengan cara yang berbeda atas sebuah cerita, tergantung bagaimana ia menyematkan makna. Ingat, respon Anda terhadap peristiwa tergantung pada makna yang Anda pilih!

Misalnya aturan Pondok yang membatasi area beraktivitas santri. Dilarang melewati batas-batas tertentu. Tidak boleh sampai jalan raya. Tidak boleh melintasi sawah atau kebun milik tetangga Pondok. Dan seterusnya.

Apa respon Anda dengan aturan tersebut?

Jika berhati sempit, berpikir picik, dan berpandangan buntu, tentu Anda menyimpulkan bahwa hidup di Pondok ibarat di penjara. Semua serba dibatasi. Dikelilingi pagar tinggi dengan kawat-kawat berdiri. Setiap sudut ada pos pengawas. Setiap titik ada kamera CCTV. Setiap gerak-geriknya diikuti. Pondok adalah penjara.

Berbeda jika berhati lapang, berpikir positif, dan berpandangan luas, pasti Anda akan meyakini bahwa hidup di Pondok laksana di surga. Di sana-sini yang terdengar adalah bacaan Al Qur’an, istighfar dan dzikir. Dilindungi dari sumber-sumber maksiat. Dijauhkan dari hiruk pikuk dunia yang melelahkan. Tidak mengerti sama sekali dengan isu-isu politik dan gosip selebritis. Pondok adalah surga.

Bukankah demikian Rasulullah ﷺ menyebutnya?

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا

Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan penuh cinta!”.

Para sahabat bertanya, “ Apakah itu taman-taman surga?”. Rasulullah bersabda, “ Halaqah-halaqah dzikir”. HR Tirmidzi 3510

Ibnul Qayyim (Al Miftah) menukil ucapan Atha’, “ (yaitu) majlis-majlis yang menerangkan halal haram, tatacara jual beli, puasa, salat, sedekah, menikah, talak, dan haji”

Apakah Pondok identik dengan kemproh (kotor)? Ya tergantung Anda merespon.

Jika Anda suka melihat-lihat tumpukan sampah, jika Anda senang memperhatikan got, jika Anda berlama-lama di kamar mandi/WC, jika Anda berteman dengan oknum santri yang pola hidupnya kotor, jika Anda malas bersih-bersih, jika Anda tertidur ketika pelajaran tentang Islam adalah agama yang memperhatikan kebersihan, wajarlah jika Anda mengatakan Pondok itu kemproh.

Bagi kami, di Pondok kami belajar banyak hal tentang kebersihan. Kami diwajibkan bersuci sebelum salat. Kami dijadwalkan mandi secara tertib. Kami diajari untuk menjaga bau mulut dengan sikat gigi bahkan bersiwak. Kami diajarkan untuk menggunakan pakaian terbaik dengan berminyakwangi.

Jangan tanya tentang piket kebersihan! Full piket kebersihan. Ada piket asrama, piket kamar mandi, piket masjid, piket dapur, piket halaman, ada piket kebersihan harian, ada piket kebersihan pekanan, bahkan ada bersih-bersih dengan skala besar.

Belum lagi sweeping dadakan! Mulai cek kuku sampai cek gigi. Cek baju dan buku. Cek ruang tidur dan ruang belajar. Di Pondok lah kami mengerti arti penting kebersihan.

Di Pondok kami mempelajari hadis Nabi ﷺ yang pernah melihat seseorang bajunya kotor. Beliau bersabda;

أَمَا كَانَ هَذَا يَجِدُ مَاءً يَغْسِلُ بِهِ ثَوْبَهُ

Apakah orang itu tidak mendapatkan air untuk mencuci bajunya?” HR Abu Dawud 4062.

Di Pondok lah kami membaca hadis : “ Rasulullah ﷺ memerintahkan agar masjid-masjid dibersihkan dan diwangikan” HR Ahmad 26.386

Di Pondok lah kami membaca sabda Nabi ﷺ :

طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا

Bersihkanlah halaman-halaman rumah kalian! Sungguh, kaum Yahudi tidak membersihkan halaman rumah mereka ” HR At Thabrani 4057.

Ya, di Pondok kami tidak hanya mengerti tentang kebersihan fisik dan lingkungan. Di Pondok kami juga belajar untuk menjaga kebersihan hati dan jiwa. Maka, santri yang hatinya bersih tentu akan senang bersih-bersih. Jika ada potret kemproh (kotor) di lingkungan Pondok, ia berusaha secara nyata bagaimana menghilangkan potret kemproh itu. Bukan menuduh, “ Pondok sama sekali tidak mengajarkan kebersihan-kerapian diri dan lingkungan”!. Kalau hanya menuduh, mungkin hatinya yang kemproh.

Lendah, 10 April 2025

https://t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca