![]() |
| Sepi, Sendiri, Lalu Sedih? |
(361)
Manzhumah Al Baiquni di tulisan sebelumnya, menyadarkan kita bahwa kemanfaatan tidak selalu disertai ketenaran. Kebaikan tak selamanya diiringi keterkenalan. Ada hamba-hamba Allah yang tidak dikenal banyak orang, pengikutnya sedikit, bahkan entah ada ataukah tidak, namun karyanya terus mengalirkan kebajikan.
Manzhumah Al Baiquni yang menjadi pegangan setiap pemula di bidang ilmu hadis, Manzhumah Al Baiquni yang di setiap masa, selalu diajarkan di majlis-majlis ilmu, Manzhumah Al Baiquni yang syarah-syarahnya tidak terhitung secara pasti karena saking banyaknya, Manzhumah Al Baiquni yang terkenal itu, siapakah gerangan penulisnya?
Tidak ditemukan satu pun biografi Al Baiquni. Tidak diketahui data dan informasi tentang Beliau secara panjang lebar. Nama saja diperdebatkan, siapa? Ada yang menyatakan nama Al Baiquni adalah Umar, ada juga berpendapat Thaha. Ayahnya? Ada yang menyebut Muhammad, ada yang mengatakan Umar, dan ada juga yang memilih Fatuh.
Tidak ada referensi otentik mengenai keterangan lahir, wafat, siapa guru-gurunya, siapa murid-muridnya, juga tidak diketahui karya Beliau selain Manzhumah Al Baiquni ini.
Al Hamawi (wafat 1098 H), sebagai pensyarah Manzhumah Baiquni dengan jarak waktu terdekat dengan masa Al Baiquni pun menyatakan, ” Saya tidak menemukan satu pun biografi Penulis -rahimahullah- sehingga bisa mengetahui nama dan kehidupannya. Saya juga tidak mengetahui nisbahnya (Al Baiquni), apakah nisbat kepada daerah, desa, ayah, atau ibu”
Maka, hampir setiap pensyarah Manzhumah Al Baiquni mengingatkan berkah dan manfaatnya sebuah keikhlasan, walau tidak dikenal orang.
Setali tiga uang, Matan Al Ajurrumiyah yang juga disebut Mukaddimah di bidang Nahwu. Al Ajurrumiyah yang tersohor itu, yang menjadi pegangan para santri, dihafal dan diingat, disyarah dan dijelaskan, Al Ajurrumiyah yang siapapun belajar ilmu Nahwu sulit untuk terlepas darinya. Siapakah penulisnya?
Biografi Beliau sangat sangat singkat. Hanya 2, 3, atau 4 paragraf saja.
As Suyuthi (Bughyatul Wu’at, nomor 434) mencatat, ” Penulis Mukaddimah yang terkenal dengan nama Al Ajurrumiyah. Pensyarah Mukaddimah karya Beliau, semacam Al Makudi dan Ar Ra’iy serta lainnya, menyebut Beliau sebagai imam di bidang Nahwu, berkah, dan kesalihan. Kesalihan Beliau terbukti dengan tersebarnya manfaat kitab Mukaddimahnya untuk para pemula secara luas ”
Masih menurut As Suyuthi, “Saya tidak menemukan satu pun biografi tentang Beliau.Hanya saja, saya pernah membaca Tarikh Granada, pada biografi Muhammad bin Umar Al Ghassani An Nahwi, bahwa Beliau pernah belajar di Fas kepada Ibnu Ajurrum. Al Ghassani memuji Beliau dengan sebutan Al Ustadz. Al Ghassani sendiri, seperti tersebut sebelum ini, lahir tahun 682. Maka, bisa disimpulkan bahwa Ibnu Ajurrum hidup di zaman itu ”
Al Baiquni dan Ibnu Ajurrum mengingatkan kita tentang penjelasan Al Imam Ibnu Rajab!
Ibnu Rajab (Fadhlu Ilmis Salaf, hal.5) mengingatkan, ” Maka, ilmu tidak ditentukan oleh banyaknya riwayat atau banyaknya ucapan. Namun, ilmu itu adalah cahaya yang Allah meletakkannya di hati hamba yang beriman. Dia pun bisa memahami kebenaran, membedakan antara al haq dan al bathil, serta mampu menerangkannya dengan kata-kata yang singkat namun tujuannya tercapai ”
Ibnu Rajab benar. Semoga Allah meridhainya.
Maka, jika engkau merasa sepi padahal di sana ramai, jika engkau merasa sendiri sementara di sana banyak, kenapa harus bersedih?
Maka, jika engkau seolah dilupakan tatkala yang lain disebut-sebut, jika engkau seakan ditinggalkan sedangkan ada yang dielu-elukan, kenapa harus bersedih?
Sedih itu jika dipinggirkan karena keburukan dirinya. Naudzu billah.
Rasulullah ﷺ bersabda :
” Sungguh, seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah seseorang yang ditinggalkan manusia karena ingin menghindari keburukannya ” HR Bukhari 6032 Muslim 2591
anakmudadansalaf.id
