Galau Itu Kalau…?

3 menit baca
Galau Itu Kalau…?
Galau Itu Kalau…?

(366)

Galau itu kalau jauh dari majlis ilmu! Sudah, itu saja. Singkat. Kenapa bisa?

Manusia tidak luput dari dosa. Hati pasti gelap karenanya. Setiap dosa adalah noktah-noktah yang terus bertambah. Jika tidak dihapus, noktah-noktah dosa akan berubah menjadi hamparan hitam yang pekat dan tebal. Itulah yang membebani pikiran dan membuatnya berat. Galau!

Apapun kondisinya, jangan tinggalkan majlis ilmu! Sebab, di majlis ilmu ada ampunan Allah yang dijanjikan.

Sahabat Umar bin Khattab menasihati, ” Sungguh! Ada orang keluar dari rumahnya dengan dosa sebesar pegunungan Tihamah, ketika mendengar ilmu ia pulang dengan taubat. Pulanglah ia ke rumahnya tanpa ada dosa tersisa. Maka, jangan tinggalkan majlis-majlis ulama ” (Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim, 1/77)

Pegunungan Tihamah adalah rangkaian dan jajaran gunung-gunung dari Teluk Aqabah di sebelah utara Arab Saudi hingga Teluk Aden di ujung selatan Yaman, memanjang 1.000 kilometer lebih di pesisir barat Semenanjung Arab.

‘Arram bin Al Ashbagh As Sulami menulis kitab tentang nama-nama pegunungan Tihamah, penduduk yang mendiami, pohon-pohon yang tumbuh di sana, kampung-kampung, dan mata air-mata air yang mengalir di sana. Kitab ini lebih dari 400 halaman.

Apapun kondisinya, jangan tinggalkan majlis ilmu!

Ketika hamba sudah merasa pintar dan menganggap dirinya cukup berilmu, di situlah tetes-tetes kesombongan menitik. Ia pikir belajar dibatasi umur. Ia anggap belajar berhenti di usia tua. Ketika hal itu muncul, di sanalah butiran-butiran takabur terkumpul. Jika dibiarkan, tetes demi tetes kesombongan menjadi lautan dan butiran-butiran takabur menjadi sahara. Itulah yang mengotori hati. Galau!

Ibnu Asakir (Tarikh Damaskus 52/199) menyebut tentang Imam Ath Thabari hanya beberapa sesaat menjelang wafat. Ketika mendengar sebuah riwayat hadis, Beliau meminta tinta dan kertas untuk menulisnya. Ada yang bertanya, ” Dalam kondisi semacam ini, Anda masih ingin menulis?”. Beliau menyatakan, ” Sudah seharusnya setiap orang untuk tidak meninggalkan menuntut ilmu, sampai ia meninggal dunia “

Apapun kondisinya, jangan tinggalkan majlis ilmu!

Majlis ilmu, di sana makanan hati. Di sana kehidupannya. Di Majlis ilmu ada firman-firman Allah, sabda-sabda Rasul Nya, dan kalimat-kalimat hikmah ulama. Ketika majlis ilmu ditinggalkan, maka hamba akan sibuk dengan berita A berita B, cerita X cerita Y, konten H konten K, video P video R, isu Q isu R, dan katanya -katanya, sudah dengar ini itu belum?, dan seterusnya.

Hamba sibuk ikut memikirkan urusan orang lain, sibuk mengikuti perkembangan informasi. Galau muncul! Karena, dia memikirkan yang bukan urusannya, memikirkan yang bukan tingkatannya, dan memikirkan yang tidak ada sangkut paut dengan ibadahnya kepada Allah. Maka, hati nya penuh residu, jiwanya dijejali ampas-ampas dunia, dan pikirannya dikeruhkan oleh endapan-endapan berita manusia.

Ibnul Qayyim (Al Wabilus Shayyib, 198) menerangkan, ” Sungguh, mensibukkan diri dengan berdzikir akan mengalihkan dari ucapan batil seperti ghibah, namimah, omongan sia-sia, memuji mencela manusia, dan lainnya. Sungguh, lisan tidak bisa diam walau sebentar. Jika tidak berdzikir, tentu bicara yang sia-sia. Tidak mungkin tidak “

Beliau menambahkan, ” Jiwa pun, jika tidak engkau sibukkan untuk hal-hal yang benar, tentu engkau dibuat sibuk dengan hal-hal yang batil. Hati juga sama, jika tidak engkau isi dengan cinta kepada Allah, akan terisi dengan cinta kepada makhluk. Mau tidak mau! “

Pilihannya ada dua, sibukkan dengan ilmu maka datanglah damai dan hilanglah galau atau sibuk mengikuti berita dan informasi manusia maka muncullah galau. Berhentilah dari berita-berita itu!

Allah Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d ; 28)

https://t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya! Andaikan kalian tetap mempertahankan...
  • (166) Di Indonesia, air zam-zam menjadi minuman yang dijual dengan harga mahal. Wajar, karena proses sampainya di Indonesia lumayan...
  • (279) Kata Babe sangat familiar di lingkungan Betawi. Lebih luas lagi untuk area Jabodetabek sekarang ini. Bahkan, sudah jamak...
  • (308) Gara-gara mimpi semua bermula. Mantan hadir di sana. Begini dan begitu. Katanya, tidak pernah memikirkan, tapi muncul dalam...
  • Ibnul Jauzi berkata : Celaka engkau! Saat diuji dengan sedikit harta, engkau memohon-mohon kepada-Nya. Ketika di tengah malam merasa...
  • (237) Walau Menyingkirkan Duri Ada satu pesan dari Rasulullah ﷺ untuk kita. Pesan tanda cinta. Pesan yang tak boleh...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca