Jalanan Bukan Jalan Keluar (3)

3 menit baca
Jalanan Bukan Jalan Keluar (3)
Jalanan Bukan Jalan Keluar (3)

(395)

Mbah Muh yang saya kenal tidak berubah. Kini di usia yang lebih 70 tahun, Mbah Muh masih seperti 12 tahun lalu saat pertama kali mengenalnya.

5 km dari rumah ke lokasi mengaji, setiap selesai salat Subuh, Mbah Muh setia dengan sepeda ontelnya. Mbah Muh tetap sumringah dan murah senyum walau harga BBM naik.

Mbah Muh tidak pusing dengan apa yang sedang terjadi. Toh, HP tidak punya.

Di rumahnya, Mbah beternak kambing dan ayam puyuh. Sayur-sayuran dan pohon buah ditanam. Alhamdulillah dengan rajin menabung, Mbah Muh pernah berangkat Umroh. Bahkan, biaya pasport dan suntik Meningitis adalah hasil menjual ikan-ikan hias yang dipelihara di belakang rumah.

Jangan tanya apa peran nya untuk bangsa? Mbah Muh walau sudah tua tetap rajin bersih-bersih lingkungan, memangkas dahan dan ranting yang menjuntai di pinggir jalan, dan aktif gotong royong di kampung.

Di tempat mengaji, Mbah Muh senang menyapa dan mengajak berbicara sesama peserta, terutama yang baru-baru.

Mbah Muh tidak sendiri. Ada ribuan, bahkan jutaan Mbah Muh-Mbah Muh lain di Indonesia yang hidup bahagia tanpa terganggu hiruk-pikuk berita dan informasi yang lebih banyak hoaxnya serta menebar kebencian.

Kita perlu belajar bahagia dari rakyat kecil yang sederhana seperti Mbah Muh.

Saking pentingnya apa yang akan disampaikan, Rasulullah ﷺ meminta para sahabat, ” Mohon dengarkan! Mohon dengarkan! “. Lalu Beliau ﷺ bersabda,

إنَّ البذاذةَ منَ الإيمانِ، إنَّ البذاذةَ منَ الإيمانِ

” Sungguh, al badzazah adalah termasuk beriman. Sungguh, al badzazah termasuk wujud beriman ” HR Abu Dawud (4161) dari sahabat Iyas Al Haritsi.

Menurut Ibnul Atsir (An Nihayah, 1/110), Al Badzazah adalah, ” Sederhana dalam berpakaian dan tidak menyombongkan diri dengannya “

Tentu bukan hanya dalam berpakaian! Dalam segala hal, orang beriman diminta untuk sederhana, tidak boros, dan tidak hidup hedon.

Silahkan membaca tentang kehidupan Rasulullah ﷺ! Ada puncak bahagia di balik hidup yang sederhana.

Maka, ketika harga-harga melambung tinggi, mata uang jatuh, mereka yang terbiasa sederhana tidak terpengaruh.

Saat harga-harga naik, sebenarnya kesempatan untuk evaluasi diri tentang pengeluaran hidup selama ini. Beli rokok, padahal berbahaya. Atau beli kosmetik dan aksesoris berlebih, hiburan yang bersifat menghambur-hamburkan uang, atau hobi yang memakan anggaran besar.

Saat harga-harga naik, sebetulnya kesempatan berhemat dan berusaha mencari alternatif pengganti.

Harga kismis pernah melambung tinggi di Mekkah. Mereka mengeluhkan hal itu kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib yang berkedudukan di Kufah. Beliau mengarahkan untuk mencari alternatif, ” Buatlah menjadi murah dengan kalian membeli kurma ” (Tarikh Ibnu Ma’in, no.474)

Ibrahim bin Adham (Tarikh Damaskus, 6/282) pernah dikeluhi harga daging yang mahal. Kata Beliau, ” Tunggu sampai murah!”. Artinya; sementara jangan membeli dahulu “

Sesederhana itu!

Di masa-masa seperti ini, alangkah bijaknya jika merenungkan ayat-ayat yang mengajak istighfar agar rezeki berlimpah.

Allah Ta’ala berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا 

“maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun”

يُّرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا 

“niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu”

وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّـكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّـكُمْ اَنْهٰرًا 

“dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS Nuh :10-12)

Jalanan bukan jalan keluar!

Gantilah teriak mengumpat dengan taubat. Ketimbang fasiltas umum dibakar, perbanyaklah istighfar. Daripada rusuh, berdoalah dengan duduk bersimpuh. Jika merasa aspirasinya tidak didengar, mengadulah kepada Dzat Yang Maha Mendengar. Ubahlah aksi anarkis dengan di ujung malam memohon kepada Allah sambil menangis.

” Memangnya hal di atas adalah solusi?”. Jawabnya, “Di situlah letak mahalnya hidayah! Tidak semua orang diberi hidayah”

anakmudadansalaf.id

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca