Dunia Yang Fana

3 menit baca
Dunia Yang Fana
Dunia Yang Fana

Ad Dzahabi (Siyar A’lam 7/509) berkisah singkat tentang klan Barmak. Sebuah keluarga besar dan terpandang yang berasal dari Persia. Khalid al Barmaki selaku tokoh pertama yang berpengaruh di tengah klan Barmak, memulai karirnya sebagai pendukung setia dinasti Abbasiyah.

Jabatan gubernur Azerbaijan pernah dipegang sebelum diangkat menjadi menteri kepercayaan Abu Ja’far al Manshur, khalifah kedua dinasti Abbasiyah. Menurut adz Dzahabi, “Khalid termasuk cerdik pandai. Berhasil menduduki jabatan tertinggi di masa pemerintahan Abu Ja’far”

Yahya, anak Khalid, pun demikian. Yahya menjadi generasi kedua klan Barmak yang mencapai puncak jabatan selaku perdana menteri. Khalifah Harun al Rasyid sangat menghormati dan memuliakannya. Panggilan “ayah” selalu dibahasakan oleh Harun al Rasyid kepada Yahya yang sekaligus gurunya sejak kecil.

Generasi ketiga klan Barmak semakin mendominasi pemerintahan.

Tentang mereka, adz Dzahabi bertutur, “Yahya tercatat sebagai perdana menteri yang hebat. Anak-anaknya menjadi pejabat penting, terutama Ja’far. Tahukah engkau tentang cerita Ja’far? Ceritanya membuat takjub. Jalan hidupnya mengherankan. Ja’far meraih jabatan tertinggi. Bahkan ikut menikmati harta khalifah dan mengatur pasukan bersama”

Namun, kata adz Dzahabi, “Dalam satu hari, semua itu terbalik. Ja’far dieksekusi mati. Ayahnya, Yahya, dan saudara-saudaranya dijebloskan di penjara sampai meninggal dunia”

فَمَا أَجْهَلَ مَنْ يَغْتَرُّ بِالدُّنْيَا! “Betapa bodohnya orang yang tertipu oleh dunia!”, pungkas adz Dzahabi.

***

Beberapa tahun sebelum itu, Yahya al Barmaki pernah termenung diam. Kejadian itu jauh waktunya sebelum klan Barmak yang habis di generasi ketiga. Yahya sendiri adalah generasi kedua.

Muhammad bin Zaidan, juru tulisnya, pernah menemui Yahya yang saat itu terlihat menanggung beban pikiran yang berat.

“Kenapa Anda terlihat galau? Putra Anda, Fadhl menjadi gubernur di propinsi Khurasan. Ja’far putra Anda yang lain menjadi gubernur di propinsi Irak. Muhammad putra Anda satunya adalah gubernur Yaman. Sementara Musa, putra Anda juga menjabat gubernur di wilayah pegunungan”, Muhammad bin Zaidan berusaha menghibur.

Yahya al Barmaki menjawab, “Justru hal itu yang membuatku berpikir dan menjadi galau”

Yahya lalu mengenang pesan kakeknya Barmak dalam sebuah cerita yang mengingatkan bahwa semua kesenangan dunia akan berakhir. Tidak ada yang kekal abadi di dunia ini. Seluruhnya akan hancur. Oleh sebab itu, Yahya yang menyaksikan dominasi klan Barmak merasa bersedih. Kekayaan, harta benda yang menumpuk, jabatan-jabatan strategis, status keluarga yang dihormati dan disegani, oleh Yahya dipandang hanyalah sementara.

Beliau bersedih, kapankah hari semua itu berakhir?

Dek, tak bosan saya mengingatkan. Sebenarnya saya sedang mengingatkan diri sendiri. Bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Semua akan hancur. Fana.

Tidak ada yang patut dibanggakan. Tak ada pula yang bisa disombongkan. Sebab, semua ini fana. Pasti habis dan hancur.

***

Cobalah resapi dan hayati ayat-ayat dalam surat al Fajr.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ {6} إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ {7} الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ {8} وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِي {9} وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ {10} الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ {11} فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ {12} فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ {13} إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ {14}

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum ‘Aad (QS. 89:6)

(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan yang tinggi, (QS. 89:7)

yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, (QS. 89:8)

dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, (QS. 89:9)

dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), (QS. 89:10)

yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, (QS. 89:11)

lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, (QS. 89:12)

karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, (QS. 89:13)

sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi. (QS. 89:14)

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca