Refleksi Kaum Menua

3 menit baca
Refleksi Kaum Menua
Refleksi Kaum Menua

(34)

Bait syair ini menjadi kenangan indah bagi pecinta ilmu Nahwu. Setiap pelaku nahwu tentu ingat dan akan terpahat di hatinya.

Walau bait syair di atas diulas secara aspek nahwu, namun makna yang ditiupkannya sangat mengena.

Kurang lebih arti syair di atas seperti ini :

“Andaisaja masa muda bisa kembali satu hari saja”

“Ingin rasanya bercerita betapa berat derita di masa tua”

Menelusuri sejarah dan asal muasal bait ini, kita diajak untuk mengenal seorang pujangga tersohor di masa kekhilafahan Abbasiyyah.

Iya… Abul ‘Atahiyah adalah pujangga yang menyusun sederet bait yang salah satunya adalah bait di atas.

Lengkapnya demikian :

بكيت على الشباب بدمع عيني .. فلم يغن البكاء ولا النحيب

فيا أسفاً أسفت على شاب .. نعاه الشيب والرأس الخضيب

عرّيت من الشباب وكنت غضاً .. كما يعرى من الورق القضيب

فيا ليت الشباب يعود يوماً .. فأخبره بما فعل المشيب

Kalau boleh diterjemahkan bebas akan seperti ini :

“Aku tangisi masa muda dengan cucuran air mata.

Walau tangisan dan ratapan tak mungkin mengubahnya”

“Duh, betapa sedihnya mengingat masa muda

Usia tua dan rambut yang telah disemir meratapinya”

“Telah hilang masa muda padahal dahulu aku kuat perkasa

Seperti gugur dedaunan dari dahannya”

“Andaisaja masa muda bisa kembali satu hari saja

Ingin rasanya bercerita betapa berat di masa tua”

*____*

Abul ‘Atahiyah bernama lengkap Ismail bin Qasim bin Suwaid bin Kaisan al Anazi.

Ad Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala menyebut beliau sebagai ; pemuka para pujangga dan sastrawan saleh yang sulit dicari tandingannya.

Ibnu Abdil Barr mengumpulkan dan menghimpun karya-karya dan cerita-cerita tentang beliau.

Melihat kisah hidupnya, bait-bait syair di atas pantas saja kuat menghantam angan-angan kita. Secara tepat mewakili apa yang banyak dirasakan oleh mereka kaum yang semakin menua.

Kenapa?

Rupanya, waktu muda Abul ‘Atahiyah dihabiskan untuk kenakalan. Masa lalunya berisikan cerita-cerita kelam dan gelap.

Ketika telah lanjut usia, Abul ‘Atahiyah memilih jalur ibadah. Beliau lalui hari-hari dengan kezuhudan.

*____*

Belasan bahkan puluhan tahun dihabiskan sia-sia. Hanya harta, harta dan harta. Mengejar karir dan jabatan. Rela diperbudak demi kedudukan.

Apakah engkau belum merasa lelah?

Apakah tidak cukup engkau menanggung payah?

Apakah engkau tidak jenuh dan penat?

Di kantor. Di pabrik. Politik. Di kapal. Di atas kereta. Di dalam bis. Di area tambang. Disibukkan dengan konflik, konflik dan konflik. Dibingungkan oleh intrik, intrik dan intrik.

Ubanmu telah mendominan. Sudah mulai engkau pelupa. Tulangmu tak sekokoh dahulu.

Apa lagi yang engkau cari? Berapa banyak waktu yang telah engkau berikan untuk keluarga? Untuk istrimu? Untuk anak-anakmu? Untuk orangtua mu?

Dan….

Berapa bagian hidupmu yang engkau persembahkan untuk Rabb-mu? Untuk Allah Ta’ala? Dia-lah yang telah menciptakanmu dan melimpahkan karunia dan rejeki untukmu.

Ah…. engkau lupakan Dia yang selalu ada dalam hidupmu? Engkau abaikan Dia, padahal Dia selalu mencurahkan nikmat untukmu?

Refleksi untuk kaum yang semakin menua

*____*

Dek, cobalah bertanya kepada orang tua-orang tua di sekitar kita! Apa pesan dan wejangan mereka untukmu yang masih muda.

Saya yakin, jawaban mereka sama :

“Andaisaja masa muda bisa kembali satu hari saja

Ingin rasanya bercerita betapa berat di masa tua”

Berat karena tiada ilmu agama. Berat sebab masa muda terbuang sia-sia. Berat dikarenakan mustahil untuk kembali muda.

Baarakallahu fiikum

(Sambil menunggu kaum muda bersama kaum tua mengerjakan ujian Nahwu.

Di Musholla Al Ilmu Pusdiklatmu)

Antara Maghrib-Isya’. 18/03/21

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • Di depan pintu rumah, Ibunda nya mendengar suara langkah kaki Abu Hurairah. Kata Ibunda nya, ” Tetaplah di situ,...
  • (171) Ada kaidah berbunyi, ” Apa yang didapat, sesuai dengan yang diperbuat”. Kadang-kadang juga disebut, ” Semisal perbuatan, demikianlah...
  • Muhammad bin Ajlan al Madani berada dalam kandungan ibunya lebih dari 3 tahun. Hal serupa juga dialami oleh Malik...
  • (220) وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ ” Kehidupan dunia itu, tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu “ Ayat...
  • (42) Al Utsaimin (Majmu’ Fatawa 26/327) bercerita tentang pengalaman menyampaikan ceramah di masjid Bandara Jeddah. Saat itu beliau sedang...
  • (286) Rangkaian ibadah haji atau umroh memang panjang. Masing-masing memberikan kesan dan pelajaran. Apa yang didapat, tergantung niat. Thawaf...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca