![]() |
| Dengan Hikmah, Mereka Melangkah |
(363)
Hikmah sering diartikan bijaksana. Mendekatkan orang kepada agama, bukan malah menyebabkan membenci agama, itupun hikmah.
Rasulullah ﷺ bersabda :
” Buatlah mudah dan jangan mempersulit! Buatlah gembira dan jangan membikin orang lari! ”
(HR Bukhari 69 Muslim 1734)
Ibnu Asakir (Tarikh Damaskus, 49/55) meriwayatkan kisah Muhammad bin Auf bin Sufyan At Tha’i. Beliau bercerita, ” Saya bermain bola di sebuah gereja ketika masih remaja. Bola pun masuk ke masjid, di dekat tempat duduk Al Mu’afa bin Imran. Saya lalu masuk untuk mengambil bola tersebut.
Al Mu’afa : Anak muda, engkau anaknya siapa?
Muhammad : Anaknya Auf
Al Mu’afa : Auf bin Sufyan?
Muhammad : Benar.
Al Mu’afa : Ketahuilah, ayahmu dahulu adalah sahabat kami. Ayahmu bersama kami mencatat hadis dan ilmu. Mestinya, engkau meniru jejak ayahmu. ”
Muhammad bin Auf lantas pulang lalu menceritakan kejadian itu kepada ibunya. Kata ibunya, ” Benar, anakku. Al Mu’afa adalah sahabat baik ayahmu “. Ibunya lalu mempersiapkan pakaiannya. Muhammad berangkat ke majlisnya Al Mu’afa membawa pena dan tinta.
Al Mu’afa memintanya menulis hadis Ismail bin ‘Ayyasy dari Abdu Rabbih bin Sulaiman bahwa Ummu Darda’ menulis untuknya di papan tulis kecil miliknya, ” Belajarlah ilmu di kala engkau masih kecil, agar di masa tuamu engkau berilmu. Sungguh, setiap orang akan memanen apa yang ia tanam, baik ataukah buruk ”
Al Mu’afa dengan hikmah merangkul seorang remaja yang senang bola hingga di kemudian hari remaja itu menjadi ulama ahli hadis. Muhammad bin Auf bin Sufyan adalah guru Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’i.
Muhammad Al Hamd (Tarajim Li Tis’atin Minal A’lam, hal.307) menyebutkan kisah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di bersama seorang perokok berat. ” Adat kebiasaan penduduk kota Unaizah, jika membeli kayu bakar sekaligus meminta si penjual untuk mengantarkannya ke rumah. Tuan rumah menyiapkan air minum dan kurma untuk si penjual kayu bakar. Jika sudah selesai, penjual sebelum pergi akan mengetuk pintu rumah dengan keras sebagai isyarat akan pergi”
” Ketika penjual kayu bakar pamitan setelah mengantarkan kayu bakar dan Asy Syaikh As Sa’dii hendak menutup pintu, Beliau menemukan satu wadah kecil di halaman. Beliau mengerti bahwa wadah kecil isinya rokok, milik si penjual kayu bakar. Cepat-cepat Syaikh memanggilnya.
As Sa’dii : Wadah kecil ini milikmu?
Penjual : Benar. Namun, wahai Syaikh, apakah Anda mengerti apa isinya?
As Sa’dii : Iya. Isinya rokok.
Penjual : Kenapa Anda malah ingin menyerahkannya kepada saya?
As Sa’dii : Iya. Sebab, kalau engkau tidak menemukannya, pasti engkau akan menggunakan uang hasil menjual kayu bakar untuk membeli rokok yang baru. Bisa saja keluargamu akan kelaparan disebabkan hal itu. Ambil saja ini. Allah adalah dzat yang Maha Memberi Hidayah.
Penjual kayu bakar itu menerima wadah rokoknya lalu membuangnya di tanah. Katanya, ” Ya Allah, sungguh sekarang saya bertaubat. Saya tidak akan merokok lagi! ”
Hikmah dalam berdakwah harus terlukis indah dengan ilmu dan dihiasi keikhlasan.
Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi menjelaskan, ” Berdakwah di jalan Allah harus dengan hikmah. Hikmah adalah ilmu, penjelasan, dan argumen. Engkau berdakwah harus dengan ilmu, dengan akhlak yang baik, dengan lemah lembut dan halus ”
Asy Syaikh Rabi’ tak sebatas berkata. Beliau dengan hikmah telah menjadi sebab sekian banyak meraih hidayah. Antara lain masuk islamnya 2 keluarga nasrani ketika Beliau berdakwah di Kenya, Afrika. Dengan lemah lembut Beliau mengajak diskusi. Bahkan, kedua kepala keluarga itu diubah namanya oleh Syaikh Rabi’ menjadi Abdullah dan Abdurrahman (Al Fushul Mudhi’ah hal. 125 ).
Allah Ta’ala berfirman :
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu ” QS Ali ‘Imran:159
anakmudadansalaf.id
