![]() |
| Harta, Tahta, Wanita, dan Atas Nama Agama |
(390)
Entah disebut pusaran apa; harta, tahta, dan wanita. Ketiganya seolah saling sahut-menyahut dan seirama selangkah.
Ada harta, berpikir wanita. Sudah bertahta, terus menumpuk harta. Wanita selalu dekat dengan tahta atau harta.
Demi wanita, dicarilah harta. Untuk tahta, dinikahilah wanita. Karena harta, dikejarlah tahta.
Membedah harta, tahta, dan wanita, teringat Nabi Yusuf yang memberikan rambu-rambu penerang. Nabi Yusuf adalah teladan penyejuk kala dihadapkan ujian harta, tahta, dan wanita.
Agama lebih berharga dari semua yang ada. Beliau yakin menjadi hamba yang taat adalah segala-galanya.
Lebih baik masuk penjara daripada mengikuti arus godaan wanita. Bukan sebaliknya, gara-gara wanita akhirnya dipenjara.
Nabi Yusuf berdoa:
“Wahai Rabb-ku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka (kaum wanita)” (QS Yusuf: 33)
As-Sa’di berkata, “Beliau lebih memilih penjara dan hukuman duniawi dibandingkan kelezatan sementara namun berkonsekuensi azab yang pedih.”
Andaikan mau, bisa saja Nabi Yusuf mengajukan syarat, “Aku akan menafsirkan mimpi Raja, asalkan aku dibebaskan dari penjara.” Namun, beliau memilih jalan terhormat walaupun terjal.
Mimpi Raja Mesir ditafsirkan dengan gamblang, jelas, disertai solusi terbaik. Raja terkagum dan takjub. Raja tertarik untuk bertemu dan hendak menjadikan Nabi Yusuf sebagai orang kepercayaan.
Tahta ditawarkan! Tidak dicari, datang sendiri. Bukannya dikejar, justru karpet terhampar. Namun, apalah arti jabatan jika akan dinodai isu perempuan? Pangkat tinggi akhirnya runtuh gara-gara wanita.
Saat utusan Raja datang, Nabi Yusuf berujar:
“Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. Sungguh, Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka” (QS Yusuf: 50)
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Agar terbukti bagi raja dan rakyatnya bahwa beliau menjaga nama baiknya dan bersih kehormatannya terhadap tuduhan yang dinisbatkan dari pihak istri Al-Aziz. Juga hukuman penjara yang beliau jalani tidaklah berdasar, bahkan murni kezaliman dan kebencian.”
Terbukti! Nabi Yusuf lah yang benar. Wanita-wanita itulah yang salah. Bersih sudah nama beliau.
Datanglah cobaan harta. Beliau dipercaya menjadi Bendaharawan Mesir. Nabi Yusuf yang menentukan, mengatur, dan mengawasi perekonomian Mesir.
Nabi Yusuf mengajarkan kepada setiap pejabat, kepada semua orang yang dipercaya di sebuah kedudukan, agar berkomitmen:
“Sungguh aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS Yusuf: 55)
Pejabat harus pandai menjaga! Bukan malah mencuri, memperkaya diri, menyalahgunakan untuk pribadi, korupsi, makan suap, atau kecurangan-kecurangan lainnya.
Paling parahnya jika agama dijadikan tameng untuk ambisi-ambisi kotor itu. Berkedok kesalehan untuk memuaskan nafsu terhadap wanita. Membuat proyek atau program fiktif guna meraup harta. Berdalih demi maslahat umat agar bisa menjabat.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Kerusakan yang disebabkan dua ekor serigala yang sedang kelaparan lalu dilepaskan ke sekawanan kambing, tidaklah seberapa dibandingkan kerusakan terhadap agama yang disebabkan ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan.” HR. Tirmidzi 2376.
Jika seseorang sudah bernafsu terhadap harta dan kedudukan, agamanya pasti rusak. Lebih-lebih nafsu terhadap wanita.
Seorang ulama tabi’in bernama Atha bin Abi Rabah rahimahullah berkata, “Andaikan aku diberi jabatan sebagai kepala Baitul Mal, aku masih mampu. Namun, aku tidak merasa aman sekalipun terhadap budak perempuan yang buruk rupa.”
Adz-Dzahabi menilai, “Beliau benar. Rahimahullah.” (Siyar, 5/88)
anakmudadansalaf.id
