![]() |
| Al Adab Qabla At Thalab; Beradab Dahulu, Berilmu Kemudian |
(400)
Pernah menyaksikan? Atau coba bayangkan dan apa pendapat Anda?
Seorang santri menselonjorkan kedua kakinya tepat di depan gurunya yang sedang mengajar.
Atau dua orang santri yang asik ngobrol berdua padahal gurunya sedang menjelaskan materi pelajaran.
Atau santri keluar dari ruangan tanpa izin kepada gurunya.
Tolong jangan dibela, “Ah, namanya saja masih anak-anak”. Jangan juga memaksakan diri memberi pembenaran, “Kan, masih tahap belajar”.
Menurut sudut pandang Islam, mohon maaf, kasus di atas bukan masalah ringan. Ini tidak patut disepelekan. Problem besar ini!
Ini tentang adab!
Apalah arti banyaknya ilmu, jika tidak berpondasikan adab. Apa manfaat jabatan tinggi, bila adabnya rendahan. Apa kelebihan orang yang sudah berumur tua, tetapi kalah beradab dari yang muda. Jangan sampai kaya harta, namun miskin adab!
Diriwayatkan dari sahabat Umar (wafat 23 H) bahwa Beliau mewanti-wanti, “Pelajarilah adab! Setelahnya, tuntutlah ilmu!” (Al Adab As Syar’iyyah, 3/552).
Sebenarnya, adab adalah bagian dari ilmu. Namun, adab disebut secara terpisah, agar semua pihak serius memperhatikan aspek adab. Karena, adab lebih mengarah kepada tata cara berbicara, bersikap, dan praktik secara nyata.
Sementara ilmu, lebih bersifat capaian akademis. Ilmu merupakan pengetahuan, wawasan, dan penguasaan aspek teoritis. Termasuk juga didalamnya adalah kemampuan hafalan, baik kuantitas maupun kualitas.
Sehingga, capaian ilmu harus ditopang keindahan adab.
Al Laits bin Sa’ad (wafat 175 H) pernah bersiap-siap menyampaikan hadis di sebuah majlis. Beliau melihat ada sesuatu yang tidak sesuai adab dari para peserta. Beliau langsung menegur, “Apa-apaan ini? Kalian lebih membutuhkan sedikit pelajaran adab daripada ilmu yang banyak” (Syaraf Ashabil Hadis, hal.122)
Beradab dahulu, berilmu kemudian. Hal ini menjadi doktrin yang diasaskan oleh kaum Salaf.
Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) menasihati seorang remaja Quraisy,
“Wahai, anak saudaraku. Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu” (Hilyatul Auliya, 6/330).
Jika Anda adalah orang tua, maka kenalkanlah pelajaran-pelajaran adab kepada anak Anda! Ajarkan cara berbicara sekaligus cara mendengar yang baik. Ajarkan cara makan dan minum yang benar, agar tidak membuat malu di depan orang. Ajarkan cara duduk, cara berjalan, dan cara berpakaian yang sopan, supaya anak Anda tumbuh terhormat.
Jika Anda seorang guru, jangan berbangga dengan hasil capaian akademik murid Anda, sementara materi-materi adab masih sangat kurang. Fokuslah membentuk adab murid Anda, walaupun menghabiskan waktu dan tenaga. Sedikit ilmu dibarengi adab yang baik, adalah istimewa. Toh, jika murid Anda tidak beradab, maka Anda lah yang pertama paling merasakan ruginya.
Jika Anda seorang penuntut ilmu, janganlah terpaku pada banyaknya ilmu, banyaknya hafalan, banyaknya kitab yang telah diselesaikan, banyaknya majlis ilmu yang didatangi! Sebagai thalibul ilmi, targetnya tidak hanya pintar, pandai, dan cerdas. Jadilah insan yang terhormat karena berhiasan adab!
Sufyan Ats Tsauri (wafat 161 H) bertutur, “Dahulu, jika seseorang hendak belajar hadis, ia mempelajari adab dan ibadah selama 20 tahun sebelumnya” (Hilyatul Auliya, 6/361).
Abdullah ibnul Mubarok (wafat 181 H) berkisah, “Saya mempelajari adab selama 30 tahun, sementara mempelajari ilmu selama 20 tahun. Dahulu kaum Salaf mempelajari adab terlebih dahulu lalu mempelajari ilmu” (Ghayat An Nihayah, no,1858).
Semakin berilmu, semakin tinggi adab. Ilmu bertambah ditandai dengan adab yang indah.
Abu Abdillah Al Balkhi berkata, “Adab ilmu lebih banyak daripada ilmu itu sendiri” (Al Adab As Syar’iyyah 3/552).
Jagalah mahkota ilmu dengan adab. Jangan biarkan perjalanan panjangmu menuntut ilmu berakhir dengan riwayat adab yang jelek. Gara-gara satu dua adab buruk, rusak ilmu seterusnya.
25 Muharram 1448 H/10 Juli 2026
