Makan dan Memberi Makan

3 menit baca
Makan dan Memberi Makan
Makan dan Memberi Makan

(402)

Ibarat ingin menemukan sebatang jarum di tumpukan tinggi jerami, betapa sulitnya mencari sosok dermawan yang selalu memikirkan orang lain, ” Bagaimana saya bisa membantu?”.

Tak hanya bisa senang, namun bagaimana membuat orang lain ikut senang. Bukan bagaimana bisa makan, tetapi ia juga berusaha agar yang lain pun kenyang.

Di surga, orang beriman menikmati lezatnya macam-macam makanan dan minuman. Itu karena di dunia mereka berbuat kebajikan. Surat Al Insan menggambarkannya dengan gamblang. Satu sifat orang beriman semasa hidupnya adalah;

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan” (QS Al-Insan: 8)

Subhanallah!

Ayat ini turun, menurut Ibnu Abbas, ” Ketika itu, para tawanan adalah orang-orang musyrik”.

Bukan hanya muslim yang diberi makan.

Setelah menukil tafsir Ibnu Abbas di atas, Al Hafiz Ibnu Katsir menguatkan dengan fakta bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk memperlakukan para tawanan musyrik di perang Badar dengan baik. Bahkan, para sahabat mendahulukan para tawanan untuk makan sebelum mereka.

Ayat Al Qur’an dan sabda Rasulullah ﷺ tidak terhitung banyaknya yang berisi perintah untuk memperhatikan orang lain agar bisa makan.

Rasulullah ﷺ bersabda;

ليس المؤمنُ بالذي يشبعُ وجارُه جائِعٌ إلى جنبَيْهِ

” Belum dikatakan sempurna beriman, seseorang yang sudah kenyang, namun ada tetangga di dekatnya masih lapar ” HR Abu Yakla (2699)

Pertama kali tiba di kota Madinah untuk hijrah, Rasulullah ﷺ bersabda;

يا أيُّها النَّاسُ أفشوا السَّلامَ، وأطعِموا الطَّعامَ، وصِلوا الأرحامَ، وصلُّوا باللَّيلِ، والنَّاسُ نيامٌ، تدخلوا الجنَّةَ بسَلامٍ

” Wahai segenap manusia, sebarkanlah salam, berbagilah makanan, sambunglah silaturahim, dan salatlah di malam hari ketika orang-orang tidur lelap, maka kalian akan masuk surga dengan penuh keselamatan ” HR Ibnu Majah (2648)

Hati yang hidup adalah hati yang tidak egois. Jiwa mulia dibuktikan dengan berbahagia jika orang lain bisa makan, dan sedih jika masih ada yang lapar.

Itulah profil orang baik, bahkan Rasulullah ﷺ bersabda;

خيارُكم مَن أطعمَ الطَّعام

” Sebaik-baik kalian adalah yang gemar berbagi makanan” HR Ahmad (23971)

Al Hafiz Ibnu Rajab (Syarah Hadis Ikhtisham Al Mala’ Al A’la) melukiskan untuk kita praktik kaum Salaf.

Salaf sangat perhatian dengan tetangganya, memastikan apakah sudah makan atau belum? Rela memberikan jatah makannya untuk yang lain lalu memilih puasa. Sebagian Salaf tidak mau berbuka puasa kecuali ditemani anak yatim dan orang miskin.

Ada Salaf yang tidak makan makanan tertentu kecuali jika ada tamu. Ada Salaf yang sengaja membawa makanan ke masjid agar bisa makan bersama dengan yang lain.

Bahkan, ada yang menyiapkan menu istimewa dan mahal hanya untuk orang lain. Katanya, ” Sungguh, saya sendiri tidak tertarik. Saya sengaja membuatnya untuk kalian”

Jangan tanyakan bagaimana Salaf yang hartawan! Dermawannya luar biasa. Setiap hari selalu mengundang makan siang di rumahnya dengan menu spesial. Orang-orang harus makan. Tidak boleh lapar!

Jangan tanyakan pula para penguasa, khalifah, atau kaum raja di masa Salaf! Pemimpin adil bijaksana tidak rela kenyang jika masih ada rakyatnya kelaparan. Pemimpin arif dan berbudi tidak akan nyenyak tidur bila masih ada rakyatnya yang lapar.

Billahi ‘alaikum! Demi Allah, adakah alasan masuk akal, walau secuil, yang membuat benci program seorang pemimpin yang hendak memberi makan rakyatnya?

Kalaupun ada yang salah dalam tata kelola atau ada penyimpangan teknis, itu tidak menghapus dalil-dalil Al Qur’an dan hadis Nabi tentang perintah memberi makan orang lapar.

Panjatkan doa-doa agar niat yang baik dapat terlaksana dengan baik.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan karunia dan berkah Nya, untuk bangsa Indonesia dan para pemimpinnya. Ya Allah, curahkanlah rahmat Mu untuk Presiden kami dan para pemimpin kami yang lain.

10 Shafar 1448 H/24 Juli 2026

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca