Lagi, Inspirasi Cinta di Kota Madinah

3 menit baca
Lagi, Inspirasi Cinta di Kota Madinah
Lagi, Inspirasi Cinta di Kota Madinah

(248)

Cinta, cerita tentangnya seolah tidak ada habisnya.

Seperti; mencintai adalah suatu bentuk rezeki. Sebab, rezeki bukan hanya berwujud uang atau barang. Bukan terbatas pada sehat, ilmu, atau rasa aman.

Bisa mencintai seseorang juga rezeki. Sebab, tidak semua orang bisa mencintai.

Rasulullah ﷺ bersabda mengenang istri terkasih, Khadijah:

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Sungguh! Aku benar-benar diberi rezeki untuk mencintainya” HR Muslim 2435

Ada yang bertahun-tahun menikah. Namun, hanya sekadar tinggal bersama. Bukan hidup bersama. Tentu berbeda, antara sekadar tinggal bersama dengan yang mampu hidup bersama!

Ada yang sudah menikah, bahkan berjalan lama, namun sulit untuk mencintai pasangannya. Entah kenapa? Yang jelas, belum datang rezekinya.

Walau tidak bisa mencintai bukanlah alasan untuk berpisah. Sebab, masih banyak alasan untuk mempertahankan rumah tangga.

Rombongan umroh kali ini terbilang unik. Ada 2 yang bujang, satu yang duda, satu beristri dua, satu beristri tiga, dan satu jamaah beristri empat. Lainnya, beristri satu.

Mbah Muchibbin, sesuai harapan orang tua yang memberi nama; orang yang mencintai. Beliau lahir tahun 1955. Sudah cukup tua.

Beliau bilang, karena sudah pernah umroh sebelumnya, “Sesuk aku arep ngumrohke mbok wedok”. Artinya; besok saya akan membadalkan umroh untuk mendiang istri saya. Iya, istri beliau sudah meninggal dunia.

Saya tertegun..

Begitu besar cintanya kepada Mbok Wedok, sampai telah wafat pun masih diingat. Bukan diingat saja, bahkan ada yang ingin dilakukan untuknya.

Nabi Muhammad ﷺ demikian mengajarkan untuk kita. Tetap mengingat dan berbuat untuk seseorang yang dicintai, walau telah wafat.

Sebagai saksi yang fair dan adil, simaklah apa yang diceritakan Ibunda Aisyah tentang Ibunda Khadijah.

“Tidak pernah aku cemburu kepada seorang wanita terhadap Nabi, seperti cemburuku kepada Khadijah. Beliau meninggal dunia, sebelum Nabi menikahiku. Karena, seringkali aku mendengar Nabi mengenang beliau”

كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلَّا خَدِيجَةُ

“Seolah-olah di dunia ini, tidak ada wanita kecuali Khadijah saja” HR Bukhari 3818 Muslim 2434

Rasulullah ﷺ pun menjelaskan sebabnya. Dengan rangkaian kata yang tidak menyinggung perasaan dan tidak menyakiti. Namun, kata-kata tersebut sudah cukup untuk menggambarkan betapa besar rasa cinta:

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Sungguh! Aku benar-benar diberi rezeki untuk mencintainya” HR Muslim 2435

Mendengar keterangan Nabi, Ibunda Aisyah pun berkata, “Demi Dzat yang mengutus Anda dengan kebenaran, mulai sekarang saya tidak akan menyebut Beliau kecuali dengan kebaikan”

An Nawawi menerangkan: Hadis ini mengajarkan untuk : mengenang dengan baik, merawat cinta, menjaga kehormatan dan perasaan pasangan. Hidup dan matinya

Kepada para suami, baik yang beristri satu, maupun yang dua, tiga, atau empat, pesan saya : cintailah istri Anda!

Pesan untuk kaum istri pun sama: cintailah suami Anda!

Bagi yang belum mampu mencintai, jangan berpikir atau memilih berpisah. Berdoalah kepada Allah, meminta kepada- Nya rezeki, yaitu rezeki mencintai. Sebab, bisa mencintai itu rezeki.

Sudahkah Anda mencintai?

Halaman Pintu 37, 28 Januari 2024

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca