![]() |
| Perbendaharaan Itu Bernama Adab |
(367)
Ambil contoh Sahih Bukhari dan Sahih Muslim! Dua kitab hadis yang telah diterima oleh seluruh umat Islam sejak dahulu kala karena menghimpun hadis-hadis sahih dari Rasulullah. Di dalam kedua kitab tersebut, ada pembahasan khusus tentang adab.
Sebenarnya, Al Imam Bukhari di dalam Sahih nya, pada kitab ke- 78, telah menyebutkan hadis-hadis yang terkait adab dan menyusunnya menjadi banyak bab. Namun, Al Bukhari belum merasa cukup. Sehingga Beliau pun menyusun hadis-hadis adab di dalam kitab tersendiri, yang terpisah dari Sahih Bukhari. Kitab tersebut dikenal dengan sebutan Al Adabul Mufrad.
Menurut Ibnu Hajar, Al Adabul Mufrad adalah, “Kitab yang berisikan hadis-hadis tambahan di luar Sahih Bukhari, sedikit atsar mauquf (dari sahabat), dan manfaatnya sangat banyak”. Al Adabul Mufrad terdiri dari 1322 hadis yang disusun menjadi 644 bab.
Fakta ini untuk menyadarkan kita bahwa ulama-ulama Islam sangat serius memperhatikan aspek adab. Kadang-kadang, adab juga diistilahkan dengan akhlak.
Adab nomor satu, adab tertinggi adalah adab hamba kepada Rabb- Nya. Adab tersebut dengan mentauhidkan Allah dan tidak melakukan kesyirikan sekecil dan dalam bentuk apapun. Namun, sangat disayangkan, adab-adab keseharian sebagai sarana mendakwahkan Tauhid seringkali diabaikan. Akibatnya, dakwah Tauhid malah dibenci dan dijauhi dengan salah satu sebabnya; buruknya adab.
Rasulullah ﷺ bersabda;
“Sungguh, termasuk orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya denganku kelak di hari kiamat adalah orang dengan akhlak terbaik di antara kalian” HR Tirmidzi 2018 dari sahabat Jabir bin Abdillah
Rasulullah ﷺ juga bersabda;
“Sungguh, orang beriman yang baik akhlaknya, mencapai tingkatan orang yang selalu berpuasa dan salat malam” HR Abu Dawud 4798 dari Ibunda Aisyah
Subhaanallah! Sabda-sabda Nabi Muhammad ﷺ terkait adab dan akhlak tak kurang-kurang dibaca, selalu ditelaah, dan terus dikaji. Praktiknya? Masing-masing perlu evaluasi diri.
Ibnul Qayyim (Madarijus Salikin, 2/368) menerangkan ;
[ Adapun adab bersama sesama makhluk adalah dengan memperlakukan mereka sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Setiap tingkatan ada adabnya. Tingkatan-tingkatan itu juga ada adab yang lebih khusus. Bersama kedua orangtua ada adab khusus. Kepada bapak ada adab yang lebih khusus. Bersama orang berilmu ada adabnya. Bersama penguasa ada adabnya tersendiri. Bersama teman-teman ada adab terkait mereka. Bersama orang asing tentu adabnya berbeda dengan sahabat dan kawan dekat. Bersama tamu ada adab yang tidak sama dengan adab bersama keluarga dekatnya.
Setiap kondisi ada adabnya. Makan ada adabnya. Minum ada adabnya. Berkendara, masuk, keluar, bepergian, berdiam menetap, minum, buang air kecil, berbicara, semua ada adabnya. Diam dan mendengar ada adabnya.
Adab seseorang merupakan jaminan bahagia dan suksesnya. Kurang beradab alamat celaka dan ruginya.
Kebaikan dunia dan akhirat tidak bisa diraih dengan cara seindah adab. Sebaliknya, keburukan dunia dan akhirat tidaklah datang dengan sebab seburuk kurang adab.
Perhatikan bagaimana adab bersama kedua orangtua menjadi sebab yang menyelamatkan anak ketika terkurung di dalam gua ketika tertutup batu besar? Sementara kurang peduli terhadap ibu, padahal karena menafsirkan secara salah sehingga tetap meneruskan salatnya, menjadi sebab si anak mengalami cobaan dengan tempat ibadahnya dihancurkan, dipukuli, dan dituduh berbuat keji.
Perhatikanlah! Kondisi setiap orang celaka, pendusta, dan berpaling, bagaimana engkau mendapati kurang adab sebagai sebab yang menjerumuskannya menuju jurang keburukan ]
Nasihat Ibnul Qayyim di atas, kurang apa? Jelas dan tegas. Hanya kurang praktiknya. Allahul musta’an.
Syaikh Rabi’ bin Hadi (Marhaban Yaa Thalibal Ilmi, 85-86) mengingatkan, ” Kita semua diperintah untuk berdakwah di jalan Allah Tabaaraka wa Ta’ala dengan metode yang baik, dengan cara yang membuat orang puas. Dengan hujjah yang jelas, dengan hikmah, dengan halus, dengan lemah lembut, dengan kasih sayang, sebagaimana dahulu Rasulullah ﷺ dan para sahabat Beliau yang mulia menyampaikan ilmu, yaitu diiringi akhlak-akhlak mulia dan sifat-sifat luhur; lemah lembut dan penuh kasih sayang “
Syaikh Rabi’ juga menerangkan bahwa dakwah Islam tersebar luas dan merata di zaman Rasulullah ﷺ dan di masa para sahabat, karena metode yang dipilih adalah metode berakhlak baik. Padahal, masyarakat yang disasar saat itu bermacam-macam suku dan bangsa. Dengan mengedepankan sabar, bijaksana, amanah, jujur, kehormatan, menepati janji, dan sifat-sifat terpuji lainnya, Islam dapat diterima dengan baik.
Beliau menegaskan, ” Akhlak-akhlak luhur semacam inilah yang dilihat oleh orang-orang sehingga berbagai bangsa menerima dakwah dengan sepenuh hati, dengan pendengaran, dan dengan penglihatan mereka, mereka menerima petunjuk dan cahaya yang dibawa oleh para sahabat Rasulullah ﷺ “
Maka, ringkasnya, perbendaharaan yang menyimpan kekayaan dan kumpulan kebaikan itu bernama adab. Siapa yang akhlak kesehariannya baik, akan diterima dan dicintai. Siapa yang buruk adabnya, otomatis dibenci dan dijauhi. Wallahul muwaffiq
anakmudadansalaf.id
