Hakikat Rezeki di Jalan Tauhid

3 menit baca
Hakikat Rezeki di Jalan Tauhid
Hakikat Rezeki di Jalan Tauhid

(385)

Ayat yang sering disampaikan dan selalu diulang-ulang adalah ;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Allah Ta’ala).” (QS Az Zariyat :56)

Tentu! Ayat ini mengingatkan yang kadang lupa, memantik semangat yang mulai redup, dan menguatkan ketika melemah, bahwa hidup di dunia bukan sekadar bersenang-senang.

Derasnya arus dunia telah membuaikan banyak orang hingga seolah-olah tidak ada beda dengan hewan ternak yang hanya; makan, minum, tidur, dan bersenang-senang.

Hidup itu untuk ibadah! Ibadah tak terbatas salat, puasa, dan zakat. Ibadah sangatlah luas.

Seringkali dipertentangkan antara ibadah dengan mencari nafkah. Ibadah sama dengan miskin, katanya. Ibadah tidak mungkin terwujud jika perut lapar dan tenggorokan haus, anggap yang lain. Benarkah?

2 ayat berturut-turut setelah ayat di atas adalah jawabannya!

Allah Ta’ala berfirman:

مَاۤ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَاۤ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.”

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّا قُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

“Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS Az Zariyat :57-58)

Menurut Al Hafiz Ibnu Katsir, makna ayat di atas adalah, ” Allah menciptakan hamba supaya mereka beribadah hanya kepada Nya, tidak mempersekutukan. Siapa yang taat, pasti Allah membalasnya dengan balasan paling sempurna. Siapa yang menentang, niscaya Allah mengukumnya dengan hukuman yang paling keras “

Al Hafiz melanjutkan, ” Allah juga mengkhabarkan bahwa Allah tidak memerlukan mereka. Justru hamba lah yang sangat memerlukan Allah di semua keadaan. Dia lah yang menciptakan, dan Dia lah yang menjamin rezeki “

Kata ringkasnya, ” Beribadahlah, rezeki telah dijamin. Bertauhidlah, rezeki itu pasti”

Setelahnya, Al Hafiz membawakan hadis qudsi yaitu firman Allah Ta’ala ;

ابنَ آدمَ ! تفرَّغْ لعبادتي أملأْ صدرَك غِنًى وأَسُدَّ فقرَك ، وإلا تفعلْ ، ملأتُ صدرَك شُغلًا ولم أَسُدَّ فقرَك

” Wahai, anak Adam. Bersungguh-sungguhlah ibadah kepada-Ku, pasti Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutup kemiskinan darimu. Jika engkau tidak beribadah, Aku penuhi dadamu dengan kesibukan dan tidak Aku tutup kemiskinan darimu ” HR Ahmad (8681) dan Tirmidzi (2466) dari Abu Hurairah.

Ibadah adalah kunci rezeki.

Sebaik-baik rezeki adalah kedamaian hati. Rezeki terindah adalah pikiran yang sejuk. Rezeki termahal adalah rasa aman. Hal itu hanya bisa diperoleh dengan jalan Tauhid; yakni beribadah hanya kepada Allah. Ikhlas.

Apalah arti harta, jika berkurang sedikit langsung menjadi beban pikiran. Apalah arti jabatan, jika diliputi ketakutan kehilangan. Apalah arti pangkat, jika tetap gagal meraihnya walau sudah menjilat. Apalah arti kepintaran, jika seperti hidup terasingkan. Apalah arti follower, jika dibikin pusing untuk menuruti kemauan mereka.

Siapa yang jauh dari Allah, dia lah orang yang paling miskin walau terlihat banyak harta. Siapa yang melakukan kesyirikan, dia lah orang yang paling tersiksa sekalipun nampak tertawa. Siapa yang bergelimang dosa, dia lah orang yang sengsara meski lahiriah nya seakan menikmati dunia.

Maafkan saja yang memandang hina, karena ia belum menikmati langkah-langkah ibadah. Tidak mengapa dibilang ketinggalan zaman, sebab yang mengaku mengikuti perkembangan zaman belum tentu nyaman. Doakan yang baik-baik untuk yang merendahkan karena menganggap miskin, bisa jadi ia tidak pernah merasa cukup.

Bermohonlah istiqamah kepada Allah di jalan ibadah. Bertauhidlah dan jangan terperosok di lubang syirik!

Allah Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْۤا اِيْمَا نَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْاَ مْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am : 82)

anakmudadansalaf.id

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca