Potret Masjid: Jangan Bilang Tinggal Kenangan!

3 menit baca
Potret Masjid: Jangan Bilang Tinggal Kenangan!
Potret Masjid: Jangan Bilang Tinggal Kenangan!

(386)

Berbicara fisik dan bangunan masjid, pasti tidak lepas dari cerita-cerita perubahannya. Supaya hamba selalu menyadari bahwa di dunia tidak ada yang kekal.

Ada yang hancur, bahkan puing-puing pun tidak tersisa. Tidak terhitung masjid-masjid yang dirobohkan pasukan Mongol ketika mereka menyerang wilayah muslim di masa Abbasiyah.

Ada yang dialihfungsikan. Mezquita Catedral de Cordoba adalah satu dari banyak masjid yang dibangun di masa Islam Andalusia (ujung barat daya Eropa) lalu diubah menjadi bangunan katedral. Padahal sudah berdiri kokoh ratusan tahun sebelumnya.

Ada yang kosong penuh debu tanpa terurus karena tidak ada yang memakmurkannya.

Ada yang masih terlihat reruntuhannya dan tertutup tanaman-tanaman liar akibat berada di bekas daerah konflik.

Ada yang kokoh berdiri tetapi sepi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang ramai dan makmur, seperti Masjid Darul Hadits Dammaj.

Ada yang dieksekusi menjadi bangunan biasa karena urusan sertifikat yang dipersoalkan sebagian ahli waris pewakaf.

Ada yang sunyi ditinggalkan karena konflik internal pengurus atau pendiri.

Ada yang dipindahkan lokasinya karena proyek pembangunan oleh pemerintah.

Namun, ada juga yang bangunan lama dirobohkan, direnovasi dan diperluas, lalu semakin makmur. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah contohnya.

Perlu diketahui bahwa pahala jariyah yang mengalir tidak terbatas pada keberadaan bentuk fisik masjid saja. Jangan berpikir jika bangunannya sudah tidak ada atau tidak dipakai, lantas pahalanya berhenti. Oh, tidak seperti itu!

Selagi masjid itu dibangun di atas pondasi keikhlasan, diperkuat oleh tiang-tiang ketaatan, dilindungi dinding-dinding amalan salih, dan diatapi oleh payung keilmuan, maka setiap kebaikan di sana bernilai jariyah.

Allah Ta’ala berfirman ;

فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ ۙ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِا لْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ

“(Cahaya itu) di rumah-rumah (masjid-masjid) yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang”

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَ بْصَارُ

“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat)” (QS An Nur: 37)

Siapa yang berbuat baik, secuil pun tidak akan sia-sia. Apalagi di masjid itu dahulunya ada salat 5 waktu ditegakkan, ada ayat-ayat Al Qur’an yang rutin dilantunkan, ada tangisan hamba bertaubat, ada yang menemukan jalan hidayah, ada ilmu-ilmu agama ditebarkan, ada perselisihan yang didamaikan, ada zakat yang ditunaikan, ada sedekah yang disalurkan, lebih-lebih jika masjid tersebut sebagai mercusuar dakwah Salaf, seperti mercusuar di tepi laut yang menjadi penunjuk arah bagi kaum pelaut.

Percayalah bahwa siapapun yang berikhlas hati, apapun andil yang diberikan untuk masjid, walau sedikit-meski sekeping, tetap mengalir pahalanya sebagai jariyah hingga hari kiamat kelak. Kendatipun bangunan masjid sudah tidak seperti sebelumnya.

Jangan khawatirkan fisik masjid, justru cemas jika tidak ikhlas. Jangan takut amalan kebaikan tidak sampai kepada Allah, namun takutlah jika amalan tersebut tidak di atas ketakwaan.

Setelah 2 ayat tentang memakmurkan masjid di atas, Allah Ta’ala berfirman:

لِيَجْزِيَهُمُ اللّٰهُ اَحْسَنَ مَا عَمِلُوْا وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ ۗ وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas” (QS An Nur:38)

Selagi berdiri, semasih ada, makmurkan masjid di dekatmu sebisa mungkin. Jangan jauh dari masjid!

anakmudadansalaf.id

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (82) Ibarat satu tubuh, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menegaskan. Jika sakit muncul di satu titik, seluruh tubuh...
  • Ibnul Qayyim ( Madarijus Salikin 2/167) menyebutkan satu cerita tentang seorang wanita yang terpeleset jatuh sampai ada jarinya yang...
  • بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Manusia akan selalu resah dan gelisah. Ketidakpastian apa yang akan datang, membuatnya terbelenggu kekhawatiran. Antara...
  • Al Ma’rur bin Suwaid. Ulama generasi tabi’in yang berumur panjang. Salah satu gelar yang diberikan untuk beliau adalah al...
  • (369) Haru membawanya tanpa dia rasa. Titik-titik air mata membasahi pipinya. Bertahun lamanya penantian. Tak lelah doa-doa ia panjatkan....
  • (249) Lurus pintu 10-12. Di sebelah luar gerbang nomor 320. Sejajar dekat dengan lokasi (dulu) Balai Saqifah, lokasi bermusyawarah...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca