Alexandria: Menuntun Agar Tidak Bimbang (1)

3 menit baca
Alexandria: Menuntun Agar Tidak Bimbang (1)
Alexandria: Menuntun Agar Tidak Bimbang (1)

(391)

Alexandria: Menuntun Agar Tidak Bimbang (1)

Jauh sebelum Kairo yang dibangun oleh Dinasti Fathimiyah, sebelum Fustat yang dibangun sahabat Amr bin Al Ash, ibukota Mesir berada di Alexandria.

Alexandria, menurut ceritera, dibangun oleh Alexander Agung dari Makedonia.

Letak yang strategis di pesisir Laut Mediterania, di selatan ada Danau Maryut, dan berada di ujung barat Delta Sungai Nil, membuat Alexandria berkembang pesat.

Pasir putih di pantai Alexandria benar-benar mirip pasir padang pasir. Suara ombaknya lirih karena kini seperti tanjung kecil yang dibatasi oleh pemecah ombak di tiga sisi.

Berada di pantai Hayyu Wasath (Kampung Tengah), nampak di ujung barat Benteng Qaitbay peninggalan Dinasti Mamluk yang dibangun di atas lokasi Mercusuar Pharos; sebuah keajaiban dunia di masanya.

Dekatnya, arah timur, Bibliotheca Alexandrina adalah perpustakaan besar yang ribuan tahun sebelumnya adalah perpustakaan besar dan paling pertama di dunia.

Di ujung tanjung sebelah timur, komplek Istana Montazah masih gagah berdiri sebagai peninggalan Raja Faruq; raja terakhir Mesir sebelum berganti menjadi republik di tahun 1952.

Jauh sebelum itu, Alexandria dibawah kuasa Ratu Cleopatra akhirnya takluk oleh kekuatan Romawi.

Hampir 7 abad dikuasai Romawi, akhirnya Alexandria jatuh di tangan umat Islam yang dipimpin sahabat Amr bin Al Ash. Walau ada penyesuaian huruf dan logat, Iskandariyah masih sering disebut Alexandria.

Al Muqaiqis, Pembesar Mesir, yang pernah Rasulullah mengirim surat kepadanya juga berkedudukan di Iskandariyah.

Al Hafiz (Al Bidayah, 4/272-273) membuat bab berjudul, “Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada Al Muqaiqis Penguasa Iskandariyah. Namanya Goerge bin Al Mina Al Qibthi”. Surat Rasulullah ﷺ dibawa oleh sahabat Hathib bin Abi Balta’ah. Hathib disambut baik, surat Rasulullah dihormati, bahkan Al Muqaiqis membawakan banyak hadiah untuk Rasulullah termasuk Ibunda Mariyah Al Qibthiyahh dan bighal Duldul.

Silih bergantinya penguasa di Alexandria cukuplah sebagai pengingat bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Kekuasaan setinggi apa pun pasti akan berakhir. Bangunan sekokoh apapun pasti runtuh.

Al Imam Abu Bakar At Thurtusi adalah seorang ulama besar madzhab Maliki yang lahir dan besar di Andalusia lalu rihlah thalabul ilmi ke Mekkah, Madinah, Irak, dan Syam.

Adz Dzahabi (Siyar, 19/490) menyebut Beliau sebagai; Al Imam, Al ‘Allamah, Al Qudwah, Az Zahid, Syaikh-nya ulama Malikiyah, Al Faqih, dan Ulama-nya Iskandariyah.

Iya. At Thurtusi memilih Iskandariyah untuk menetap dan berdakwah hingga wafatnya.

Suatu saat (Sirajul Muluk, 36) Beliau berkesempatan bertemu Perdana Menteri Al Afdhal di masa Dinasti Fatimiyah. Beliau memberi banyak nasihat. Antara lain,

“Sadarilah bahwa kekuasaan yang ada pada Anda saat ini disebabkan kematian penguasa sebelum Anda. Suatu saat kekuasaan Anda pun akan berakhir disebabkan hal yang sama dengan apa yang terjadi pada Anda saat berkuasa (kematian). Maka, bertakwalah kepada Allah atas beban yang Allah berikan kepada Anda terhadap umat ini. Sungguh, Allah akan menuntut tanggung jawab Anda, walau pun sekecil naqir (titik kecil pada punggung biji kurma), qithmir (selaput tipis yang melekat pada biji kurma), dan fatil (serat halus yang ada pada belahan biji kurma)”

At Thurtusi lalu membaca firman Allah Ta’ala ;

فَوَرَبِّكَ لَـنَسْـئَلَـنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ

 

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua”

عَمَّا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

“tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu” (QS Al-Hijr:92- 93)

Kota Alexandria masih menyisakan banyak artefak, puing, dan bangunan-bangunan kuno. Artefak sejak masa Romawi, masa pemerintahan Islam yang datang silih berganti, peninggalan Napoleon Bonaparte, dan sisa-sisa penjajahan Inggris terhadap Mesir selama 74 tahun.

Semuanya menyadarkan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Harta niscaya habis, keluarga akan pergi, kecerdasan tentu memudar, dan kekuasaan pasti berakhir. Hanya amalan manusia yang akan menemani hingga hari Kebangkitan.

19 Dzulhijjah 1447 H/05 Junin2026

anakmudadansalaf.id

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca