Daurah Pantura 2 ; Agar Thalabul Ilmi Tidak Tertahan Di Simpang Semangat

3 menit baca
Daurah Pantura 2 ; Agar Thalabul Ilmi Tidak Tertahan Di Simpang Semangat
Daurah Pantura 2 ; Agar Thalabul Ilmi Tidak Tertahan Di Simpang Semangat

(399)

Alhamdulillah, Daurah Pantura ke-2 akan diselenggarakan pada hari Sabtu dan Ahad, 04-05 Juli 2026 di Masjid Agung Jawa Tengah.

Cerita usaha dan pengorbanan agar bisa menyelenggarakan, mengikuti, dan mensukseskannya sudah dimulai. Keringat, air mata, biaya, tenaga, jarak, waktu, dan terkadang ada beda pendapat secara teknis, banyak yang tidak terceritakan. Itulah perjuangan!

Walaupun jauh, izinkan saya untuk ikut menyertai dengan beberapa hal.

Pertama; jemputlah keikhlasan!

Ikhlas memang berat. Praktiknya tak semudah teorinya. Namun, itu bukan alasan untuk tidak berangkat. Teruslah thalabul ilmi! Karena, nilai-nilai keikhlasan hanya bisa diperoleh dengan ilmu.

Mujahid bin Jabr berbagi pengalaman, ” Dahulu saat kami thalabul ilmi, tidak ada niat pada kami. Namun, selanjutnya Allah memberikan karunia niat untuk kami ” (Siyar A’lam, 4/452)

Kedua; hidup memang melelahkan.

Berbuat baik, lelah. Orang jahat pun lelah. Bergerak capek, diam juga capek. Berkegiatan letih, tidur berlebih juga letih. Sama-sama lelah, pilihlah lelah dalam kebaikan!

Yahya bin Abi Katsir mengatakan; ” Mana mungkin ilmu bisa diperoleh dengan badan yang rehat!” HR Muslim 612.

Ibnul Jauzi (Hifzul Umur, hal.64) menulis, ” Sama halnya dengan dua orang bersaudara. Satunya menempuh thalabul ilmi, yang lain memilih sibuk dunia. Ketika sudah sama-sama tua, keduanya duduk berkumpul di sebuah tempat. Satunya terlihat tanda lelah, namun ia telah memperoleh ilmu dan takwa. Adapun orang kedua tidak nampak sama sekali kalau ia bahagia, bahkan kalau mulai mengenang ia sangat menyesal”

” Sungguh celaka orang yang diberi akal namun malah memilih dunia dan mengabaikan hal yang pasti membahagiakan”, pungkas Ibnul Jauzi.

Ketiga; sebelum menyesal, jangan sampai terlewatkan!

Abu Bakar bin Ayyas, (Al Hilyah, 8/303), mengingatkan, ” Ada orang kehilangan uang satu dirham, maka seharian ia pusing : Inna lillah! Uangku satu dirham hilang. Tetapi, ketika kehilangan satu hari full (karena tidak ada amal), kenapa ia tidak menyesal dan mengatakan: Aduh, aku kehilangan satu hari full tanpa amal kebaikan”

Manfaatkanlah dua hari Daurah Pantura ke-2 ini dengan sebaik-baiknya! Jangan sampai menyesal.

Kehilangan kesempatan di sebuah acara dunia, terkadang sesalnya tidak hilang-hilang. Peluang memperoleh laba dari suatu usaha, bisa membuat kecewa dalam waktu lama. Maka, jangan sampai menyesal karena tidak menghadiri Daurah.

Keempat; berpahala walau tidak berada di sana.

Iya. Bagi yang tidak hadir karena usia, kesehatan, biaya, jarak, atau urusan yang tidak bisa ditinggalkan, tetaplah ikut Daurah Pantura walau dengan berniat.

Niat yang kuat adalah berpahala!

Di suatu perjalanan dalam sebuah peperangan, Rasulullah ﷺ bersabda;

إنَّ بالمَدينةِ لَرِجالًا ما سِرتُم مَسيرًا، ولا قَطَعتُم واديًا، إلَّا كانوا معكُم؛ حَبَسَهمُ المَرَضُ

” Sungguh! Di kota Madinah, ada sejumlah orang, tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan, kalian melintasi sebuah lembah, melainkan mereka sama-sama beroleh pahala seperti kalian. Ada sakit yang menghalangi mereka (untuk berangkat bersama kalian) ” HR Muslim no.191

Kelima; Amalkan!

Jarak jauh adalah berat. Biaya banyak juga berat. Meninggalkan pekerjaan atau keluarga pun berat. Intinya; menuntut ilmu itu berat. Tetapi, hal yang lebih berat dari itu semua adalah masa-masa mengamalkan ilmu yang didapat.

Sepulangnya nanti, amalkan ilmu yang diperoleh dari Daurah Pantura ke-2!

Allah Ta’ala berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

“(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff:3)

Saudaraku, manfaatkanlah momen Daurah untuk berdakwah dengan; menebar salam, murah senyum, saling menyapa dan berkenalan, saling mendoakan kebaikan, saling membantu, dan wujudkan tali-tali ukhuwwah!

Kepada kaum muslimin semua, bukan hanya sesama peserta.

Berdakwah juga bisa dengan bersih-bersih lokasi! Itulah ciri khas Daurah Ahlus Sunnah.

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca